Janji

oleh -62 views

Kulirik arlojiku sudah menunjukkan pukul 13.00 siang. Aku langsung bergegas menuju ke kantor. Aku masih kepikiran surat tadi, bukankah itu sangat aneh jika Farel tiba tiba mengirim surat dan meminta alamatku. Bukankah dia mengirim surat itu sudah berarti dia tahu alamatku.

Aku tidak bisa berpikir, selain memikirkan surat itu. Bagaimana Farel tiba tiba muncul setelah sepuluh tahun lalu.

Kring.. Kring.. Kringg..
Lamunanku disadarkan oleh suara handphoneku. Tanpa melihat siapa yang menelepon aku langsung mengangkatnya.

“Hallo bisa bicara dengan Bu Aldora?”
“Iya, dengan saya sendiri”
Suara itu seperti tak asing lagi di telingaku. Aku seperti pernah mendengar suara itu.

“Bukankah ini suara laki laki tadi yang memberiku surat” gumamku
“Ada apa ya?” aku bertanya kepada penelpon tadi
“Apakah saya bisa bertemu dengan Ibu? Kalau Ibu bisa, besok jam 1 siang di tempat Ibu biasa.” Tanya penelepon
“Iya” Jawabku singkat
“Bagaimana dia bisa tahu dimana tempatku biasa?” Dewi batinku bertanya tanya.

Baca Juga  OJK Genjot Literasi Kripto di Ambon, Mahasiswa Diminta Bijak Berinvestasi Digital

Aku tidak bisa tidur memikirkan itu. Aku sangat penasaran siapa penelepon tadi dan siapa yang memberiku surat tadi. Dimana keberadaan Farel sekarang.

Keesokan harinya aku masih memikirkan hal yang sama. Apalagi nanti jam 1 siang, si penelepon ingin mengajakku ketemu, itu yang membuatku sangat deg degan.