Jokowi Mengidap Penyakit Atychiphobia

oleh -61 views
Tarmidzi Yusuf, Kolumnis

Oleh: Tarmidzi Yusuf, Kolumnis

Kacau. Benar-benar kacau. Indonesia punya presiden tidak bisa membedakan urusan keluarga dan kenegaraan. Jokowi menyebut seorang presiden hingga para menteri “boleh kampanye, boleh memihak” selama pemilihan umum.

Jabatan presiden melekat pada seorang yang bernama Joko Widodo alias Jokowi. Tidak ada larangan secara pribadi Jokowi mendukung anaknya, Gibran Rakabuming Raka agar menang Pilpres 2024. Etika diatas konstitusi tapi bukan catatan Mahkamah Konstitusi tentang anak haram konstitusi.

Hanya saja, Jokowi saat ini Presiden Indonesia. Kepala Negara sekaligus Kepala Pemerintahan. Dengan kekuasaan yang ia miliki, Jokowi bisa berbuat apa saja untuk memenangkan Gibran Rakabuming Raka sebagai calon wakil presiden.

Meski Jokowi bisa cuti ikut kampanye seperti diatur dalam Pasal 281 ayat (1) Undang-undang Nomor 7 Tahun 2017 tentang Pemilu.

Masalahnya, Gibran Rakabuming Raka putra sulung Jokowi sebagai salah satu kontestan Pilpres 2024. Siapa yang bisa menjamin Presiden Jokowi tidak mengintervensi TNI/Polri, BIN dan penyelenggara pemilu serta tidak mempersiapkan infrastruktur kecurangan lainnya untuk memenangkan Gibran Rakabuming Raka.

Baca Juga  Mahkota Kubah Masjid Kaiely dari Emas 2,6 Kg Raib Digondol Maling

Lagian ketidaknetralan Presiden Jokowi memperkuat dugaan publik selama ini. Pilpres 2024 bakal curang. Pembiaran bagi presiden, menteri, dan pejabat lainnya untuk mengikuti kampanye anggota keluarganya bertentangan dengan prinsip pemilu yang bebas, jujur, dan adil. Sebab, hal ini telah diatur Pasal 22E ayat (1) Undang-Undang Dasar (UUD) 1945 yang menginginkan pemilu dilaksanakan secara bebas, jujur, dan adil.

Belum lagi kondisi kesehatan calon presiden Prabowo Subianto yang pernah diisukan terkena stroke 3 kali. Jalan Prabowo Subianto tidak seperti saat nyapres tahun 2019 yang lalu. Segar dan berjalannya normal. Sekarang jalannya tampak pincang.

Seharusnya Jokowi mencontoh Presiden Indonesia ke-5, Megawati Soekarnoputri. Ketika maju Pilpres tahun 2004, Megawati Soekarnoputri incumbent. Lawannya Susilo Bambang Yudhoyono (SBY), Amien Rais, Wiranto dan Hamzah Haz.

Baca Juga  Kakek 72 Tahun di Ambon Ditemukan Membusuk di Dalam Kamar

Megawati Soekarnoputri ketika itu tidak memanfaatkan kekuasaan yang sedang ia pegang untuk menang Pilpres baik di putaran pertama maupun putaran kedua. Megawati Soekarnoputri ikut Pilpres layaknya seperti calon presiden lainnya.

Publik patut curiga. Wajar. Dibalik ngototnya Jokowi agar Gibran Rakabuming Raka menang Pilpres 2024. Ada “bangkai” dan agenda tersembunyi. Apalagi dugaan korupsi beberapa kasus besar yang melibatkan Jokowi dan kroni-kroninya termasuk kedua putranya, Gibran Rakabuming Raka dan Kaesang Pangarep akan terungkap bila Jokowi gagal memenangkan Gibran Rakabuming Raka di Pilpres 2024.

Dalam sejarah Jokowi ikut kontestasi tidak pernah kalah. Jokowi selalu menang. Belum pernah kalah. Mulai dari Walikota Solo, Gubernur DKI Jakarta hingga RI-1. Gagal cuma sekali, presiden tiga periode karena melanggar konstitusi. Ingat! Jokowi menang selalu bersama PDIP. Pilpres 2024 Jokowi tidak lagi bersama PDIP.

Baca Juga  Jelang Ramadan, Harga Beras di Malra Meroket, Warga Minta Pemkab Gelar Pasar Murah

Takut kalah inilah yang membuat Jokowi panik lantaran tidak bersama PDIP lagi. Atychiphobia, yaitu ketakutan yang kuat akan kegagalan. Orang dengan kondisi ini mungkin menghindari segala situasi yang memungkinkan mengalami kegagalan.

Orang yang mengidap penyakit Atychiphobia biasanya cenderung menghalalkan segala cara dan tidak punya rasa malu untuk melanggar aturan dan etika.

Penyakit Atychiphobia inilah yang mendorong Jokowi ikut cawe-cawe dan ikut kampanye. Apalagi dalam Pilpres tahun 2024 Gibran Rakabuming Raka tidak didukung oleh PDIP.

Rasa takut itu makin besar setelah elektabilitas Prabowo-Gibran stagnan. Kalau memang benar elektabilitas Prabowo-Gibran seperti disebut dalam rilis berbagai lembaga survei mendekati bahkan lebih dari 50 persen tentu saja Jokowi tidak sepanik ini.

Bandung, 12 Rajab 1445/24 Januari 2024

No More Posts Available.

No more pages to load.