Partai Buruh sebenarnya memiliki anggota parlemen yang lebih beragam secara etnis dan gender. Tetapi, mereka menempati sedikit kursi dalam jabatan tertinggi partai.
Berbeda dari Partai Konservatif yang telah menunjuk tiga perdana menteri perempuan, Partai Buruh tidak pernah dipimpin perempuan.
Partai Konservatif mungkin menyaksikan kemajuan unggul daripada oposisi. Wakil Ketua Partai Buruh, Angela Rayner, mengakui keunggulan itu. Namun, dia menggarisbawahi, Truss sebelumnya berperan membawa kekacauan sebagai bagian dari kabinet Johnson.
Sebagian besar pemilik suara dari populasi non-kulit putih lantas mengalihkan dukungan mereka terhadap kebijakan ekonomi dan perlawanan terhadap rasisme dari Partai Buruh.
Pihaknya menekankan, Truss menciptakan kabinet paling sayap kanan dalam sejarah Inggris. Sehingga, mereka merangkul agenda politik yang menyerang hak-hak pekerja, terutama minoritas.
“Itu kemajuan, dan itu sangat disambut baik. Kami memang membutuhkan keragaman,” terang Rayner, dikutip dari AFP.
“[Tetapi] Ini tentang apa yang Anda lakukan sebagaimana ini tentang dari mana Anda berasal,” imbuh dia.
Politikus Partai Buruh, Shaista Aziz, meyakini bahwa keputusan tersebut bukanlah representasi. Dia menegaskan, Truss hanya mempersenjatai diri dengan tokenisme. Aziz menyoroti bahwa partai tersebut gagal mewakili keprihatinan masyarakat biasa.




