Kakek Bora Ternyata Nikahi Janda 19 Tahun Bukan Gadis, Ira: Alhamdulillah Malam Pertama Sudah

oleh -323 views
Link Banner

Porostimur.com | Bone : Kisah pernikahan kakek 58 tahun di Bone, Sulawesi Selatan dengan wanita muda usia 19 tahun masih viral di media sosial.

Kini akhirnya terkuak bahwa pengantin wanita yang bernama Ira Fazilla ini ternyata berstatus sebagai janda muda.

Sebelumnya Ira Fazilla sudah sempat menikah saat usianya masih belia.

Bahkan pernikahannya kala itu juga tidak dilaporkan ke KUA lantaran dilakukan di bawah umur.

Kini pernikahan kedua Ira bersama Bora, kakek 58 tahun tersebut mendadak viral di media sosial.

La Bora dan Ira Fazilah merupakan warga Dusun Cappiga, Desa Bana, Kecamatan Bontocani, sekitar 72 km sebelah selatan Watampone, ibu kota Kabupaten Bone.

Selisih usia pasangan ini 39 tahun

Pernikahan ini ternyata diam-diam atau tak tercatat oleh otoritas setempat, Kantor Urusan Agama (KUA).

Kantor urusan agama menyebut pernikahan ini “siri” dan belum diakui negara.

“Pernikahannya hanya disaksikan kepala desa tapi tak tercatat di lembar negara.” ujar Dr Wahyuddin Hakim, Kepala Kantor Agama Bone, kepada Tribun, Kamis (8/4/2021).

Bukan pasangan ideal, namun keduanya ternyata ‘pacaran’ dan saling suka.

Bagi Bora, ini adalah debut pernikahnya.

Sedangkan bagi Ira, ini adalah pernikahan keduanya.

“Informasi dari imam desa, mempelai pria katanya perjaka, kalau yang perempuan janda tanpa anak,” ujar Haji Abdul Aziz, Kepala Kantor Urusan Agama (KUA) Bontocani kepada Tribun.

Kepala KUA menyebut, pernikahan pertama Ira tahun 2018 lalu.

Bora (58) dan Ira Fazillah (19) pasangan pengantin yang kembali menggemparkan Kabupaten Bone, Sulawesi Selatan. Rabu, (7/4/2021).
Bora (58) dan Ira Fazillah (19) pasangan pengantin yang kembali menggemparkan Kabupaten Bone, Sulawesi Selatan. Rabu, (7/4/2021). (KOMPAS.COM/ABDUL HAQ YAHYA MAULANA T)

Namun di awal masa pandemi, Ira bercerai dengan suaminya warga kampung tetangga, Desa Bulu Sirua.

“Waktu mempelai wanita menikah 3 tahun lalu, dia masih di bawah umur dan tak tercatat di KUA. Waktu cerai juga tidak tercatat.”

KUA menduga, inilah alasan kenapa pihak keluarga Ira tak melaporkan akad nikahan keduanya dengan di kantor KUA.

Baca Juga  Personil Brimob Maluku Kompi 3 Batalyon A Pelopor Rutin Semprot Cairan Disinfektan di Kota Namlea

“Mungkin karena takut ketahuan, pernah menikah dulu, akhirnya saat menikah dengan Bora juga tak melapor ke pecatat nikah desa dan KUA.”

Rumah kedua mempelai masih radius 5 km dari kantor KUA kecamatan.

“Dekat, cuma medannya ke sana kalau musim hujan bisa dua jam baru sampai, karena masih jalan berlumpur.”

Kampung kedua mempelai termasuk pedalaman Sulsel.

Lokasinya berada di perbatasan Bone, Maros, Gowa, dan Sinjai.

Warga Desa ini mayoritas petani pekebun.

Bana adalah satu dari 10 desa/kelurahan di Bontocani.

Selain Kahu, ibukota kecamatan ada delapan desa lainnya; Bontojai ,Bulu Sirua, Erecinnong, Lamoncong Langi, Mattirowalie, Pammusureng, Pattuku dan Watang Cani Penduduk Desa Bana, Bontocani sekitar 2.267 jiwa.

Dengan luas 69,1 km2 atau sepertiga luas Kota Makassar (199,1 km2), kepadatan penduduk desa ini hanya 33 orang per kilometer.

Bandingkan dengan kota Makassar yang setiap kilo meter perseginya dihuni 8.580 orang.

Rerata per bulan pernilkahan di desa ini sekitar 10 peristiwa nikah.

“Tahun lalu, itu pas saya baru menjabat KUA 142 peristiwa dalam setahun, ya rata-rata 10 lah, paling banyak jelang Bulan Puasa dan setelah panen, atau setelah lebaran haji,” ujar Aziz.

Dia menyebut, tahun lalu ada warganya yang menikah di bawah usia 16 tahun. Namun karena tak dapat rekomendasi dari pengadian, pernikahan itu tertunda.

Dr Wahyuddin Hakim juga menyebut Dua tahun ini, kita terus menkampanyekan larang menikah di bawah umur.

Dia menyebut pernikahan dini masih jadi fenomena umum di wilayah tugasnya.

“Karena di pedalaman sekitar 70 km dari kota (Bone), pernikahan dini di wilayah Bontocani memang termasuk tinggi. Ini tantangannya. Banyak yang belum tercatat di KUA” kata mantan Kepala MTSn Makassar ini.

Baca Juga  Rahmi Husen: Tuntutan Otsus Malut Lebih Pada Soal Keadilan

Bora adalah petani pemilik lahan kebun sawah dan bekas perantau Kolaka, Sulawesi Tenggara.

Sedangkan si Ira, adalah hanya tamatan sekolah menengah.

Mereka berdua juga masih memiliki hubungan keluarga.

Akad nikahnya berlangsung di rumah nenek mempelai perempuan di Dusun Cappiga, Desa Bana, Rabu (7/4/2021).

Sejumlah tamu undangan hingga malam masih terus berdatangan menyampaikan ucapan selamat kepada kedua mempelai.

Bora dan Ira terlihat bahagia dengan pakaian adat baju Bugis berwarna putih.

Kepala Desa Bana, Ishak mengatakan Bora melamar Ira pada Kamis 25 Maret lalu.

“Prosesi lamaran 13 hari lalu.

Ira dipinang dengan mahar Rp10 juta dan satu hektare tanah,” katanya melalui sambungan video call.

Dia menyampaikan sampai saat ini kedua mempelai masih duduk di pelaminan. Tamu pun masih terus berdatangan.

“Setelah itu, keduanya akan melakukan ritual Mappasewada atau mempertemukan sepasang pengantin sebagai ritual akhir dalam prosesi pernikahan bugis. Setelah itu baru buka baju,” celetuknya.

Ishak menyampaikan, Ira menerima lamaran Bora karena iba. Tak ada yang merawatnya di usia tua.

“Bora ini lajang, belum pernah nikah.

Ira mengaku menerima lamaran karena Bora sudah tua dan tinggal sendiri di rumahnya.

Dia ingin merawat sampai akhir hayatnya,” jelasnya.

Kata Ishak, Bora sehari-hari bekerja sebagai petani. Sementara Ira tidak bekerja.

Ira merupakan ada pertama dari empat bersaudara.

Usai menikah kedua pasangan ini akan tinggal di rumah mempelai laki-laki.

Untuk diketahui, Desa Bana, Kecamatan Bontocani berada di pegunungan.

Lokasinya dari Kota Watampone berjarak 104 kilometer dengan waktu tempuh sekiar 3 jam.

Akademisi dari UIN Alauddin Makassar Dr Zulhasari Mustafa menyebut pernikahan itu tak diakui hukum fiqhi Indonesia, namun “sah” dari tinjauan fiqhi Islam.

Baca Juga  Cendekiawan Muslim Al-Ghazali, Bapak Filsafat yang Pasang Badan untuk Islam

“Persoalannya kan ini Indonesia. Bukan negara Islam.

Jadi pernikahan itu termasuk ilegal kalau tak tercatat di KUA,” ungkapnya dikutip dari TribunBone, Janda Muda di Bone Dinikahi Kakek 58 Tahun Mahar 1 Hektar Tanah, Momen Romantis usah Nikah Viral.

Akademisi UIN lainnya, M Syukri Thahir MAg menyebut hal serupa.

Menurutnya, pencatatan nikah di KUA penting, bukan tentang pengesahan hubungan suami istri sahaja, melainkan tentang hak waris.

Baginya pencatatan nikah juga diperlukan untuk jangka panjang.

Misalnya hak waris.

“Kalau nanti ada anaknya.

Dan ada warisan untuk anak, bagaimana membagi waris kalau tak ada bukti otentik pernikahan.” kata Syukri yang juga Wakil Ketua MUI Sulut ini.

Momen Romantis

Usai melangsungkan resepsi pernihakan, momen romantis La Bora dan Ira Fazilah tak kalah viralnya.

Ya malam pertama pengantin fenomenal ini membuat para warganet penasaran.

Rupanya malam pertama Ira dan Bora dihabiskan dengan pesta kecil-kecilan dengan makan bersama keluarga.

Tampak Ira Fazilah dan La Bora malu-malu menunjukkan kemesraan mereka saling suap-suapan.

Setelah pernikahannya dengan Bora (58) menjadi viral di media sosial, Ira Fazillah (19) mengaku tak begitu mempermasalahkan pendapat orang lain.

Dirinya bahkan mengakui bahwa saat ini hidupnya lebih bahagia.

“Alhamdulillah malam pertama telah kami lewati dan secara pribadi saya sangat bahagia,” kata dia.

Namun rasa cintanya kepada Bora tak perlu diragukan.

Dirinya juga tak menampik bahwa Bora masih memiliki hubungan kekerabatan dengannya.

“Saya ikhlas menikah dengan suami saya walau pun usia kami beda jauh tapi saya ikhlas, lagian suami saya adalah keluarga sendiri dan selama ini tinggal sendiri, tidak ada yang rawat,” tutur Ira.

(red/web)

No More Posts Available.

No more pages to load.