Kasus itu memunculkan tagar #PercumaLaporPolisi yang sempat viral. Kali ini pun orang sudah bertanya seperti itu lagi. Polisi lambat merespon laporan si gadis karena melibatkan anggotanya. Tapi sangat cepat bereaksi menangkap perempuan ekshibisionis yang mengekspose dirinya di bandara Yogyakarta.
Temali lain dari kasus gadis ini juga muncul dari orangtua si pelaku. Kabarnya, dia adalah seorang anggota DPRD di daerahnya. Dari laman Facebooknya, saya bisa memperkirakan aliran politiknya. Dia memang sedang berkuasa sekarang.
Gadis yang mengakhiri hidupnya ini jelas menderita depresi akibat tekanan sosial luar biasa yang harus dia hadapi. Dia membutuhkan dukungan (support system) dari masyarakat. Itu persis yang kita tidak punya. Atau kalau pun ada, tidak banyak orang bisa mengaksesnya.
Kedua, dia mengalami kekerasan seksual. Inilah sebenarnya titik pangkal depresi yang dideritanya. Alih-alih mendapatkan perlindungan, dia malah disudutkan. Bahkan oleh orang-orang yang seharusnya melindunginya.
Saya banyak mengamati kasus-kasus kekerasan seksual. Salah satu yang paling jamak yang saya amati adalah bahwa si korban selalu mengalami masalah kepercayaan (credibility problem).
Dengan kata lain, si korban selalu tidak dipercaya, diragukan, dan dipertanyakan. Si korban tidak punya kredibilitas untuk mengungkap kejahatan yang menimpa dirinya.









