Kita hidup di zaman ketika idealisme dipersepsikan sebagai beban, dan pragmatisme dijadikan kemapanan. Pemuda tidak lagi menyalakan obor, mereka sibuk menghangatkan rekening.
Mereka tak berbaris untuk perubahan, melainkan untuk menampakkan diri solid di bawah kepemimpinan sang ketua—yang iman perubahannya sudah tergadai.
Perubahan kini hanya menjadi jaringan semu antarmereka, relasi yang saling menopang demi posisi, bukan demi gagasan. Solidaritas berubah menjadi sandiwara loyalitas; mereka bersatu bukan karena cita, tapi karena kepentingan yang sama-sama rapuh.
Maka negeri ini kehabisan darah segar. Yang tumbuh hanyalah generasi yang ingin aman—takut kehilangan fasilitas, takut disingkirkan dari lingkar kekuasaan. Dan saat generasi muda menjadi bagian dari sistem yang seharusnya mereka awasi, maka seluruh bangsa kehilangan benteng moralnya.
Namun sejarah tak pernah berhenti pada mereka yang nyaman. Selalu ada yang muak. Selalu ada yang diam-diam menyalakan bara di dalam dirinya. Dari reruntuhan moral hari ini, akan lahir generasi yang tak lagi ingin sekadar tampil di spanduk, melainkan menulis bab baru perlawanan. Mereka mungkin belum berteriak, tapi diamnya adalah ancaman.
Dan ketika waktunya tiba–mereka tak akan melempar kursi lagi. Mereka akan menumbangkan meja kekuasaan.











