Masalah yang tak kalah serius adalah rantai pasokan.
Perang aktif di kawasan Teluk Persia mengganggu jalur distribusi dari pangkalan Armada ke-5 Angkatan Laut AS di Bahrain menuju kapal-kapal yang berada di laut.
Verissimo menjelaskan, ketika Bahrain tidak lagi dapat berfungsi normal sebagai pusat logistik, makanan, surat dan peralatan yang berada di sana ikut tertahan. Kondisi tersebut menciptakan penumpukan pasokan dan memaksa Angkatan Laut menentukan prioritas pengiriman.
Makanan menjadi prioritas pertama. Setelah itu kebutuhan toko kapal seperti pasta gigi dan sampo, kemudian surat.
Pengiriman buah dan sayuran segar juga menjadi persoalan karena perjalanan yang panjang meningkatkan risiko makanan rusak sebelum tiba di kapal.
“Kami melakukan pekerjaan yang lebih baik dengan pasokan dan surat. Kondisinya membaik, meskipun masih belum baik,” kata Verissimo.
Menjelang akhir pertemuan virtual, seorang force master chief mengatakan pihaknya telah menghubungi USS Abraham Lincoln untuk mendapatkan jawaban mengenai sejumlah keluhan keluarga.
Jawaban yang diterima menyebut tidak terdapat jamur di kapal, sistem pendingin udara berfungsi, air bersih tersedia dan terdapat dua pilihan makanan berprotein bagi para awak.









