Kembali ke Khittah Tjokroaminoto

oleh -56 views

Oleh: Willy Aditya, Ketua DPP Partai NasDem

“Waktu beberapa orang Belanda Indo berani menaikkan bendera merah putih biru di Hotel Yamato, orang-orang Indonesia tercengang-cengang. Orang-orang tercengang bertambah banyak dan bertambah lama bertambah mendekati hotel itu. Tiba-tiba melompat seorang pemuda ke depan. Dipanjatnya tiang bendera, dirobeknya kain biru dari bendera itu. Orang-orang tercengang bertepuk dan bersorak, tapi orang-orang Belanda Indo marah-marah. Bukan untuk dirobek mereka menaikkan bendera…” Begitu Idrus menuliskan sepenggal peristiwa di Hotel Yamato 19 September 1945 dalam cerita pendek Surabaya.

Peristiwa itulah yang kemudian menjadi pemicu rentetan perlawanan yang terhadap kembalinya tentara kolonial Belanda yang mendompleng Sekutu. Hari ini peristiwa itu dikenal sebagai hari Pahlawan, dan menjadikan kota Surabaya mendapat penamaan Kota Pahlawan.

Baca Juga  Ternyata 5 Karakter ini yang Dicari-cari Para Cowok!

Khittah Tjokroaminoto
Surabaya, kota yang menurut H.O.S. Tjokroaminoto merupakan “dapur nasionalisme”. Di kota inilah, tepatnya di Jalan Peneleh, Tjokroaminoto seorang pahlawan nasional pernah tinggal. Rumahnya juga menjadi tempat pemondokan (kosthuis) pelajar-pelajar MULO. Sebanyak 20 pelajar MULO tinggal di rumah ini. Di antara pelajar-pelajar tersebut terdapat nama-nama yang di kemudian hari menjadi tokoh-tokoh penting yang mewarnai sejarah bangsa Indonesia. Ada Kartosoewirjo, Soekarno, Abikoesno Tjokrosujoso, Musodo, Alimin, Herman Kartowisastro dan Samperno. Mereka pernah tinggal dan hidup bersama Tjokroaminoto. Sehingga tidak mengherankan jika pikiran-pikiran mereka sangat diwarnai oleh pemikiran Tjokroaminoto. Selain mereka yang tinggal ada juga tokoh-tokoh yang datang silih berganti untuk singgah duduk bertukar pikiran. Dapat disebut di antara mereka adalah K.H. Agus Salim, K.H. Mas Mansyur dan K.H. Ahmad Dahlan.

No More Posts Available.

No more pages to load.