“Di era digital sekarang, kita perlu meningkatkan security. Bukan hanya cyber security namun juga pemahaman pengguna akan personal security. Oleh karena itu, perlu adanya integrasi dan sinergi antara kebijakan cyber security dengan tingkat pemahaman dan kewaspadaan pengguna produk digital,” terangnya.
Biasanya, kata Harris, para pelaku begal rekening itu berusaha untuk menipu korban agar memberikan akses terhadap data-data pribadi seperti nomor kartu kredit, PIN, OTP, CVV/CVC, nama ibu kandung dan data pribadi lainnya. Tiba-tiba “boom!” saldo di rekening Anda raib.
Setelah memberikan akses data pribadi, pelaku langsung mengambil seluruh data yang diberikan sebelum korbannya sadar bahwa ia telah ditipu dan telah memberikan akses terhadap data pribadi kepada orang yang tidak dikenal.
“Serangan social engineering dapat terjadi dalam berbagai bentuk, seperti melalui telepon, file yang di-download, popup palsu, hingga yang paling sering, link palsu,” tambahnya.
Berdasarkan data, hingga Juli 2021 lalu, Anti Phishing Working Group mencatat terdapat 260.642 serangan phishing, yang menyerang berbagai industri. Mulai dari logistik, media sosial, finansial, hingga webmail.




