5. Ketidakpercayaan dan Provokasi Israel
Ketidakpercayaan antara Israel dan Hamas sering memicu tindakan provokatif yang mengarah pada pelanggaran gencatan senjata.
Misalnya, pada Maret 2025, Netanyahu menuduh Hamas menolak membebaskan sandera dan menyatakan negosiasi hanya akan dilakukan di bawah tekanan militer.
Sebaliknya, Hamas menuduh Israel melanggar gencatan senjata secara sepihak. Tuduhan dan tindakan saling balas ini menciptakan siklus kekerasan yang sulit dihentikan.
6. Kurangnya Komitmen Israel terhadap Gencatan Senjata
Beberapa pihak di Israel menentang gencatan senjata sejak awal, dengan alasan perang di Gaza harus dilanjutkan untuk mencapai tujuan militer tertentu.
Penolakan ini mencerminkan kurangnya komitmen terhadap perjanjian gencatan senjata dan meningkatkan kemungkinan pelanggaran.
7. Ketidakjelasan dalam Perjanjian Gencatan Senjata
Seringkali, perjanjian gencatan senjata antara Israel dan Hamas tidak memiliki komitmen yang jelas dan jaminan yang kuat, sehingga rentan terhadap pelanggaran.
Kurangnya kejelasan ini memungkinkan kedua belah pihak menafsirkan perjanjian sesuai kepentingan mereka, yang dapat memicu pelanggaran.
8. Netanyahu Bisa Dipenjara karena Kasus Korupsi Jika Pemerintahannya Runtuh
Netanyahu yang saat ini terlilit banyak kasus korupsi di pengadilan sangat takut jika jabatannya sebagai perdana menteri hilang karena pemerintahannya runtuh, hingga bisa dipenjara karena berbagai kasus korupsinya.









