Kita tidak kekurangan orang pandai. Namun banyak orang-orang pandai terbengkalai karena tidak mendapat pendidikan yang baik dan sistem yang adil yang memungkinkan mereka mendapatkan kesempatan untuk berkembang dan menyumbangkan kemampuan mereka untuk masyarakat dan bangsanya.
Problem yang kita hadapi adalah problem kekuasaan dan kekuatan. Para penguasa kita belum tentu adalah yang terbaik di masyarakatnya. Bisa jadi, yang menentukan kebijakan-kebijakan adalah medioker-medioker, yang ada di singgasana kekuasaan dan membuat keputusan untuk orang banyak. Mereka ada disana hanya karena punya koneksi, kemampuan membeli suara, atau karena ketaatan pada para oligarkh politik dan ekonomi yang mendominasi negeri ini.
Dalam soal sepakbola, seperti rakyat kebanyakan, mereka juga butuh kemenangan. Mereka tahu bahwa menang itu akan membantu mereka bertengger di singgasana kekuasaan selamanya. Namun mereka juga tahu bahwa kemenangan itu harus loyal terhadap diri mereka sendiri.
Dalam realisme politik, kekuasaan itu juga berarti kemampuan untuk mengkoordinasikan sesuatu sehingga mencapai hasil. Disinilah saya kira kita menghadapi masalah yang serius. Karena koordinasi kita didasarkan pertama-tama oleh transaksi.










