Karakter hidup politik di dunia olahraga kita sepertinya mirip dengan apa yang digambarkan oleh John Sidel, ilmuwan politik pengajar di London School of Economics, sebagai “bossisme” di Filipina. Setiap cabang olahraga menjadi ranah (bailiwick) dari para boss tertentu.
Siapapun sulit masuk ke ranah itu. Para penguasa ada disana selamanya. Rejim politik boleh berganti tapi rejim pengelola olahraga tetap sama. Sistem kompetisi baru digulirkan, namun organisasi yang mengeluarkan peraturan tetap sama. Dan organisasi ini menjadi ‘bailiwick’ para boss itu.
Para elit politik yang berkuasa memilih untuk bekerjasama (bertransaksi) dengan para boss ini. Seringkali jasa mereka juga dimanfaatkan untuk memobilisasi pemilih. Bahkan juga untuk mengatur apa saja seturut kepentingan para elit.
Sistem seperti ini tidak punya perhatian pada atlet, pada kompetisi, pada prestasi. Para boss ini hanya tertarik pada bagaimana ada di ranah itu selamanya, mengontrol apa saja, dan menangguk keuntungan. Siapapun tidak bisa berkembang tanpa mereka.
Atlet-atlet berbakat bisa menjadi medioker bila tidak berada dalam wilayah kepentingan para boss ini.
Problem olahraga kita adalah problem struktural. Para politisi, pejabat publik, para boss penguasa dunia olahraga bisa jadi juga bukan orang-orang yang kompeten mengurus bidangnya. Kolusi dan korupsi adalah dasar utamanya.









