Kepada Nadiem Kita Berkaca

oleh -178 views
Agung Prahitna

Saya pernah melihat seorang profesor yang cukup terhormat di kampusnya dan pemuka agama yang pengikutnya banyak bersalaman dengan penuh takzim nyaris mencium tangan orang kaya. Sepanjang obrolan mereka, sang profesor dan pemuka agama tidak henti-hentinya memuji dan memuja si orang kaya. Pujiannya klise dan cenderung berlebihan.

Saya tahu persis orang kaya dan dipuja itu, hartanya diperoleh dengan banyak melanggar norma sosial. Hampir semua orang tahu ia banyak merampas hak orang lain dan perusahaannya mencemari lingkungan. Tidak hanya dihormati oleh para terpelajar, orang kaya ini mengatur kekuasaan birokrasi pemerintahan dan disegani oleh aparat penegak hukum. Saking takut semua padanya, orang tidak berani menyebut namanya.

Baca Juga  Gagalkan Dugaan TPPO, Polresta Ambon Selamatkan 2 Remaja di Pelabuhan Yos Sudarso

*

Menjadi orang kaya, sukses dan terkenal telah menjadi semacam tujuan sosial di negeri ini. Semua orang berlomba untuk mencapai tujuan itu. Mereka yang berhasil mencapai tujuan menempati tahta status sosial yang tinggi dengan aneka ragam privilege.

Tujuan sosial menjadi kaya sudah menggejala hingga akar rumput. Tengok saja postingan di media sosial, terutama di platform instagram. Foto atau video yang ditampilkan oleh semua kalangan didominasi oleh maksud memamerkan kekayaan. Orang berupaya mendapatkan pengakuan bahwa dirinya kaya dan sukses melalui media sosial. Karena pengakuan ini mereka memperoleh kehormatan.

No More Posts Available.

No more pages to load.