Ketika Ide Federasi Kembali Mengetuk Pintu Maluku Utara

oleh -173 Dilihat

Jarak adalah harga.

Jarak adalah waktu.

Jarak adalah ongkos kapal.

Jarak adalah anak sekolah yang harus menyeberang laut.

Jarak adalah pasien yang harus menunggu kapal atau pesawat.

Jarak adalah harga barang yang naik karena biaya transportasi.

Jarak adalah jalan yang terlambat dibangun.

Jarak adalah keputusan Jakarta yang membutuhkan waktu panjang untuk sampai ke sebuah desa di Halmahera.

Maka ketika orang di pusat berkata, “Bukankah daerah sudah diberi otonomi?”, pertanyaan dari pulau-pulau mungkin sederhana:

Otonomi yang mana?

Otonomi dalam undang-undang?

Atau otonomi dalam menentukan nasib sendiri?

Sebab ada perbedaan besar antara diberi kewenangan administratif dengan diberi ruang untuk menentukan masa depan.

Baca Juga  Golkar Usulkan Dapil Nasional dalam RUU Pemilu, 58 Kursi DPR Jadi Opsi Pembahasan

Dan di sinilah persoalan Maluku Utara menjadi menarik.

Provinsi ini kaya.

Tanahnya menyimpan mineral.

Lautnya menyimpan ikan.

Perut buminya menyimpan nikel.

Tetapi kekayaan alam tidak selalu berbanding lurus dengan rasa sejahtera.

Di titik itulah luka sosial mulai tumbuh.

Ketika daerah kaya tetapi merasa tidak cukup memiliki kekayaannya sendiri, angka-angka statistik perlahan kehilangan daya hiburnya.

Sebab rakyat tidak makan statistik.

Rakyat makan dari harga yang terjangkau.

Rakyat membutuhkan sekolah yang baik.

No More Posts Available.

No more pages to load.