Khutbah Terakhir Rasulullah yang Menggetarkan Hati Saat Haji Wada

oleh -72 views
Link Banner

Khutbah terakhir Rasulullah shallalahu ‘alaihi wasallam 15 abad lalu di Padang Arafah pada Haji Wada sangat menakjubkan dan menggetarkan hati. Beliau berkhutbah di hadapan seratusan ribu kaum muslimin pada Haji Wada (haji perpisahan) sebelum Beliau kembali ke rahmat Allah.

Keadaan di Padang Arafah disebut-sebut sebagai replika di Padang Mahsyar saat manusia dibangkitkan kelak pada hari Kiamat. Riwayat menceritakan, pada Haji Wada Nabi Muhammad صلى الله عليه وسلم bertolak ke Padang Arafah dari Mina setelah matahari terbit di Hari ke-9 Dzulhijjah (Hari Arafah).

Kala itu musim Haji Tahun 10 Hijriyah atau sekira Tahun 632 Masehi. Sebuah kemah didirikan di kaki bukit Jabal Rahmah. Rasulullah SAW berada di dalam kemah itu hingga matahari tergelincir di waktu Zuhur. Lalu Beliau naik unta kesayangannya bernama Al-Qaswa dan berdoa mengangkat tangannya.

Setelah itu Beliua bergegas menuju Wadi Uranah, sebuah lembah yang dipenuhi 140 ribu manusia yang berkumpul sembari menunggu kedatangan Rasulullah SAW. Di tempat itu, beliau menyampaikan khutbah terkahirnya sebelum wafat pada 12 Rabiul Awal Tahun 11 Hijriyah dalam usian 63 tahun.

Khutbah beliau ini mengandung pesan yang luar biasa sekaligus menyempurnakan risalah dan tugas Kenabiannya. Beliau merangkum garis-garis besar ajaran Islam dan pokok-pokok syariat dalam bahasa sederhana yg dapat dipahami semua orang.

Berikut isi khutbah Nabi Muhammad Pada Haji Wada:

Baca Juga  Pemkot Ambon dan BI Maluku Luncurkan Program Mari Katong Belanja Online

Saudara-saudara! Dengarkanlah kata-kataku. Sebab, aku tidak tahu apakah setelah tahun ini aku bertemu kalian lagi di tempat ini atau tidak? Sesungguhnya masa beredar sesuai pola ketika Allah mencipatkan langit dan bumi. Bilangan bulan di sisi Allah itu ada 12. Empat di antaranya adalah bulan haram (suci), tiga bulan berturut-turut (Zulqa’dah, Zulhijjah, Muharrom) dan Rajab; bulan yg terjepit antara Jumadil Akhir dan Sya’ban. Bulan apakah ini, Bukankah ini bulan Zulhijjah?

Semua yang hadir menjawab, “Benar!” Tanah apakah tanah ini? Bukankah ini Tanah Suci?” Semua yang hadir menjawab, “Benar!” Hari apakah sekarang? Bukankah sekarang Hari Kurban?” Semua yang Hadir menjawab, “Benar!

“Sesungguhnya darah dan harta kalian suci, seperti sucinya harimu, bulanmu, dan tanahmu ini. Sungguh kalian akan menghadap Tuhan, lalu kalian akan ditanya tentang segala perbuatan kalian. Ingat, janganlah kalian kembali ke dalam kesesatan sepeninggalku nanti, lalu kalian saling penggal satu sama lain.

Ingat, hendaklah yang hadir saat ini menyampaikan pesan ini kepada yang tidak hadir. Siapa tahu mereka lebih mampu menjaga pesan dibanding yg mendengar langsung dariku hari ini. Bukankah aku telah menyampaikan? Bukankah aku telah menyampaikan? Barangsiapa diberi amanah, tunaikanlah kepada yang berhak mendapatkannya.

Segala bentuk riba sudah tidak berlaku. Tetapi, kalian berhak menerima modal kalian. Kalian tidak boleh berbuat zalim juga tidak boleh dizalimi. Allah telah menetapkan tidak ada lagi riba dan bahwa riba Abbas ibn Abdul Mutthalib adalah riba yang pertama dihapuskan. Demikian pula setiap tuntutan darah pada masa Jahiliyah sudah dihapuskan. Dan tuntutan darah pertama yg kuakhiri adalah tuntutan darah Rabi’ah ibn al-Harits ibn Abdil Mutthalib (sepupu Nabi).

“Selanjutnya saudara-saudara, sesungguhnya setan telah patah harapan untuk dipertuan di bumi kalian ini, selamanya! Tetapi, jika ia ditakuti dalam hal lain, ia pasti senang dan ini akan membuat kalian terhina dari segi amal kalian. Karena itu, waspadailah ia atas agama kalian.

“Saudara-saudara, sesungguhnya mengundur-undurkan bulan haram (suci) itu menambah kekafiran. Disesatkan orang yang kafir itu karena mengundur-ngundurkannya. Mereka menghalalkannya pada satu tahun dan mengharamkannya pada tahun lain agar mereka dapat menyesuaikan dengan bilangan yang Allah haramkan maka mereka menghalalkan apa yang diharamkan Allah.

Saudara-saudara, sesungguhnya kalian punya hak atas istri-istri kalian dan mereka pun punya hak atas kalian. Kalian berhak melarang mereka memasukkan siapa pun yang tidak kalian sukai ke rumah kalian, melarang mereka melakukan perbuatan keji. Jika mereka tetap melakukan, Allah mengizinkan kalian pisah ranjang dan memukul mereka dengan pukulan yg tidak menyakiti. Adapun atas diri kalian mereka berhak mendapat rezeki dan pakaian dengan baik.

Saudara-saudara, berilah istri-istri kalian nasihat yang baik. Sebab mereka adalah mitra kalian yang tidak bisa berbuat apa-apa atas diri mereka. Maka, camkanlah kata-kataku, Saudara-saudara, karena aku telah menyampaikannya kepada kalian. Dan telah kutinggalkan untuk kalian sesuatu, yang jika kalian pegang teguh, pasti kalian tidak akan pernah sesat selamanya. Sesuatu yang sudah jelas bagi kalian yaitu Kitabullah dan Sunnah Nabi-Nya.

Saudara-saudara, dengarkanlah kata-kataku dan camkanlah. Kalian sungguh telah tahu bahwa setiap muslim adalah saudara bagi muslim lain dan bahwa segenap muslim adalah saudara. Tidak halal bagi seseorang mengambil dari saudaranya kecuali apa yang diberikan dengan lapang hati. Maka, janganlah kalian zalimi diri kalian.

“Ya Allah, bukankah telah kusampaikan?” Semua menjawab serentak dari seluruh penjuru, “Ya Allah, benar!” Kemudian beliau bersabda, “Ya Allah saksikanlah!”

Baca Juga  Gelar Paripurna, DPRD SBB Setujui 12 Usulan Ranperda

Setelah menyampaikan khutbah tersebut, Nabi pun turun dari untanya. Demikian khutbah terakhir Baginda Nabi Muhammad yang membuat ratusan ribu orang menangis di lembah Uranah tersebut. Beberapa bulan kemudian setelah menyampaikan khutbah itu, Rasululah SAW pun wafat pada 12 Rabiul Awal Tahun 11 Hijriyah. Mudah-mudahan kita selalu mengenang pesan Baginda Nabi ini dan dimudahkan dalam mengamalkannya.

(red/sindonews)