Singkat cerita, sekitar 10 bulan tinggal di Tiongkok, Monika mulai merasa tak betah tinggal bersama suami dan keluarganya. Perilaku kekerasan dan pelecehan seksual mulai dialaminya.
Monika bercerita, pernah diajak berhubungan intim bersama suami. Namun, ajakan itu enggan ia penuhi lantaran sedang sakit dan menstruasi. Suaminya tak percaya. Hingga mertua Monica sempat meminta ia telanjang dan minta membuktikan bahwa sedang datang bulan.
Kemudian, Monika mengaku pernah mengalami kekerasan. Punggungnya pernah dipukul oleh sang suami. Dia mengungkapkan, ada juga temannya yang menjadi pengantin pesanan mengalami kekerasan dalam rumah tangga.
Teman-teman saya ada tiga orang. Satu orang dipukul,” katanya.
Atas kejadian tersebut, Monika mulai sadar. Ia segera menelepon para makcomblang untuk menceritakan pengalamannya dan meminta pulang ke Indonesia. Tetapi, mereka hilang tanpa kabar.
“Makcomblangnya enggak ada semua, enggak ada kabar, enggak aktif semua nomornya. Kamu nanti mau pulang bisa telepon ini saja nanti, nyatanya enggak ada bohong semua,” tuturnya.
Akhirnya, Monika berencana untuk kabur dari rumah suaminya yang tinggal di kawasan pegunungan tersebut. Diam-diam, ia kabur keluar rumah dengan menyetop bus menuju terminal Wuji. Kemudian, transit menggunakan taksi menuju kantor polisi di Hebei.




