Pada ayat-ayat berikutnya, Habib An-Najjar memberikan sejumlah alasan mengapa penduduk Antakya harus beriman kepada Allah SWT, tak seharusnya menolak dakwah tiga utusan Nabi Isa AS. Dia menggambarkan betapa besarnya kekuasaan dan pertolongan Allah. Dia pun secara terang-terangan menyatakan beriman kepada Allah SWT.
Pernyataan keimanan tersebut diucapkan Habib An-Najjar di tengah kaum yang bergelimang kekafiran, kemusyrikan, dan kemaksiatan. Ia sekalipun tak gentar dengan ancaman yang ada di depan mata.
Menurut suatu riwayat, setelah Habib An-Najjar memberikan nasihat dan menyatakan keimanannya itu, kaum ingkar Antakya langsung menyerangnya dan membunuhnya. Tak seorang pun yang membelanya.
Qatadah mengatakan Habib An-Najjar dirajam dengan batu hingga meninggal dunia. Saat dihujani batu itu, Habib An-Najjar tak berhenti berdoa, “Wahai Tuhanku, tunjukilah kaumku, karena mereka tidak mengetahui.”
Disebutkan dalam riwayat lain, sebelum Habib An-Najjar menghembuskan napas terakhirnya, turunlah malaikat yang menyampaikan bahwa Allah SWT telah mengampuni segala dosa-dosanya yang diperbuat sebelum beriman, dan Allah SWT akan memasukkannya ke surga.
Pada detik-detik terakhir sebelum maut menjemput, Habib An-Najjar sempat berkata, “Alangkah baiknya, jika kaumku mengetahui karunia Allah yang dilimpahkan-Nya kepadaku, berkat keimananku kepada-Nya, aku telah memperoleh ampunan atas dosaku. Aku akan dimasukkan ke dalam surga dengan ganjaran yang berlipat ganda, dan termasuk golongan orang-orang yang memperoleh kemuliaan di sisi-Nya. Seandainya mereka mengetahui hal ini, tentulah mereka akan beriman pula.”









