Kisah Imam Abu Hanifah yang Wafat di Penjara karena Menolak Jabatan

oleh -5 Dilihat

Derita Imam Abu Hanifah di Balik Jeruji

Hari-hari Imam Abu Hanifah di penjara diisi dengan siksaan. Setiap pagi, tubuhnya dicambuk. Lehernya juga dikalungi rantai besi yang berat. Namun, hukuman itu tidak membuatnya menerima jabatan yang sejak awal ia tolak.

Adapun alasan Imam Abu Hanifah menolak tawaran dari pemerintahan pada masa Daulah Umayyah dan Abbasiyah adalah karena ia tidak sejalan dengan corak pemerintahan yang mereka jalankan.

Meski pemerintah berusaha mengajaknya bekerja sama dan mengikuti kebijakan mereka, Imam Abu Hanifah tetap teguh pada pendiriannya.

Sampai suatu ketika, Imam Abu Hanifah dipanggil untuk menghadap khalifah. Ia datang ke hadapan Abu Ja’far Al-Mansur. Di sana, ia diberi segelas air yang disebut berisi racun. Imam Abu Hanifah pun dipaksa meminumnya.

Setelah meminum air tersebut, Imam Abu Hanifah kembali dimasukkan ke dalam penjara. Di sanalah ia menghabiskan sisa hidupnya hingga akhirnya wafat pada usia 70 tahun.

Baca Juga  Tangis Gubernur Lewerissa Pecah Saat Lihat Anak-anak Patahuwe Terdampak Konflik

Ilmunya Tetap Hidup setelah Kepergiannya

Meski Imam Abu Hanifah tidak dikenal banyak mengarang kitab sendiri, ilmunya tidak berhenti setelah ia wafat.

Para murid dan pengikutnya menuliskan fatwa-fatwanya dalam kitab-kitab fikih. Pemikiran Imam Abu Hanifah kemudian berkembang menjadi Mazhab Hanafi, yang hingga kini dikenal sebagai salah satu dari empat mazhab fikih.

No More Posts Available.

No more pages to load.