Pembelaan Nabi Adam Berdasarkan Takdir yang Telah Ditentukan
Namun, Nabi Adam AS tidak tinggal diam. Dengan argumen yang kuat, ia mengingatkan Nabi Musa AS bahwa segala sesuatu yang terjadi, termasuk kesalahan yang ia perbuat, telah tertulis dalam takdir Allah SWT.
Nabi Adam AS balik bertanya kepada Nabi Musa AS, “Engkau adalah Musa yang dipilih Allah dengan risalah dan kalam-Nya. Engkau mencela diriku terhadap suatu persoalan yang telah ditakdirkan kepadaku sebelum aku diciptakan?”
Perdebatan ini semakin menarik ketika Nabi Adam AS merujuk pada kitab suci Taurat yang diturunkan kepada Nabi Musa AS. Ia bertanya berapa lama Taurat itu ditulis sebelum penciptaannya.
Nabi Musa AS menjawab, “Empat puluh tahun.” Kemudian Nabi Adam AS kembali bertanya, “Apakah engkau menemukan di dalamnya ayat yang berbunyi: ‘Dan durhakalah Adam kepada Tuhan dan sesatlah ia’?”
Nabi Musa AS mengiyakan, “Ya.”
Mendengar jawaban itu, Nabi Adam AS menegaskan, “Kalau begitu, mengapa engkau mencela diriku atas perbuatan yang telah ditetapkan oleh Allah bagiku untuk mengerjakannya, (yaitu) ketetapan yang sudah tertulis empat puluh tahun sebelum Dia menciptakan aku?”
Hikmah dari Perdebatan
Menurut hadits yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari dan Muslim, Adam AS mengalahkan argumentasi Musa AS. Ini bukan berarti Nabi Adam AS tidak bersalah, melainkan menunjukkan bahwa takdir adalah bagian tak terpisahkan dari rencana ilahi.









