Negara-negara dengan tradisi demokrasi matang memelihara perbedaan ini dengan disiplin. Di Inggris, Amerika, hingga India, komedi politik kerap lebih pedas dari cabai rawit Nusantara, tetapi mekanisme hukumnya tidak tergesa-gesa menjadikan tawa sebagai delik. Kita, sebaliknya, kerap memproses emosi dengan surat pengaduan.
Pandji sendiri berulang kali mengatakan bahwa sasaran utamanya adalah kita —masyarakat yang menikmati demokrasi sekaligus mengeluh tentang wakilnya. “DPR itu cermin kita,” katanya, dengan logika yang tak populer tetapi sulit dibantah. Ia tidak sedang menunjuk satu kelompok sebagai musuh, melainkan mengajak publik bercermin: jika kita tak suka wajah politik kita, mungkin yang perlu dirias pertama adalah kebiasaan kita sebagai pemilih.
Namun begitulah nasib satir: ia bekerja dengan melebih-lebihkan agar yang tersembunyi menjadi terlihat. Hiperbola membuatnya lucu, sekaligus rawan disalahpahami sebagai pernyataan literal. Ketika sebagian orang menuntut presisi forensik dari sebuah monolog komedi, kita sedang meminta ikan berenang dengan sepatu pantofel.
Di balik kegaduhan ini, ada pelajaran yang lebih luas tentang kesehatan ruang publik kita. Jika komedi ditanggapi seolah-olah notulensi rapat, kita akan kehilangan satu kanal penting untuk menguji nalar kolektif tanpa darah dan air mata.









