Komedi yang Terlalu Serius

oleh -262 views
Ahmadie Thaha/Ist

Oleh: Ahmadie Thaha, Kolumnis

Rupanya kita sedang hidup di zaman ketika tawa harus lebih dulu minta izin. Komedi, yang sejak Yunani Kuno berfungsi sebagai cermin retak masyarakat, kini diperlakukan seperti berita acara. Diperiksa, dipilah, disaring, lalu —kalau perlu— dibawa ke kantor polisi.

Jadinya, seolah-olah humor adalah barang bukti, bukan cara paling jujur untuk mengatakan sesuatu yang tak sanggup diucapkan secara lurus. Itulah yang menimpa Pandji Pragiwaksono lewat Mens Rea, monolog yang selama sepuluh hari bertengger manis di Netflix.

Sepuluh hari bukan waktu yang lama, tetapi cukup untuk membuat kalimat-kalimat satirnya beredar seperti virus: dikutip, dipotong, disematkan di status, lalu ditafsirkan dengan nada yang semakin menjauh dari konteks. Dalam dunia yang gemar memotret satu sudut dan mengklaim itu sebagai keseluruhan bangunan, komedi memang selalu berada di ujung tanduk.

Masalahnya bukan pada tawa, melainkan pada kalimat-kalimat “nyerempet” yang membuat sebagian pihak merasa pikirannya lecet. Sejumlah pemuda yang mengaku kader NU dan Muhammadiyah meradang, meski ormas induknya justru memilih tenang.

Baca Juga  Tragedi Yuvi Cileunyi

Yang mereka persoalkan bukan kritik kebijakan semata, melainkan dugaan bahwa Pandji menuding adanya “imbalan” berupa konsesi tambang. Bagi para pelapor, itu fitnah. Bagi sebagian penonton, itu sindiran.

No More Posts Available.

No more pages to load.