KPPU Temukan Dugaan Persaingan Tak Sehat di Industri Nikel

oleh -29 views
Link Banner

Porostimur.com – Jakarta: Komisi Pengawas Persaingan Usaha (KPPU) menemukan dugaan persaingan usaha tak sehat antara produsen nikel dan industri smelter. Produsen nikel diduga terpaksa menjual nikel dengan harga lebih murah dari yang seharusnya ke industri smelter.

Direktur Investigasi KPPU Gopprera Panggabean mengatakan pemerintah telah melarang ekspor bijih nikel sejak Januari 2020. Dengan demikian, produsen hanya bisa menjual bijih nikel ke industri dalam negeri.

“Penjualan bijih nikel dipengaruhi kadar daripada bijih nikel yang diproduksi dari perusahaan, jadi dalam proses jual dan beli nikel itu ada dua proses pengujian kadar,” kata Gopprera dalam forum jurnalis, Jumat (12/11/2021).

Ia mengatakan penambang akan menunjuk surveyor untuk menghitung kadar dari nikel tersebut. Kemudian, industri smelter yang menjadi calon pembeli juga akan menunjuk surveyor untuk menghitung kadar nikel.

“Informasi yang kami terima ada perbedaan kadar. Di sini pada akhirnya terjadi perbedaan selisih yang mempengaruhi harga yang ditentukan penambang nikel,” ucap Gopprera.

Baca Juga  Satgas Yonarmed 9 Kostrad Terima Kunjungan Pangdam XVI Pattimura Dalam Rangka Pengecekan Kesiapan Pilkada di Maluku Utara

Namun, posisi penambang nikel tak kuat dalam proses jual dan beli ini. Pasalnya, penambang seperti tak ada pilihan dan takut kehilangan pembeli.

“Yang kami duga bisa jadi ada market power, sehingga apakah dugaan seperti itu karena tidak ada pilihan, sehingga penambah peroleh harga yang lebih rendah dari yang seharusnya,” ujar Gopprera.

Untuk itu, ia akan mengecek metode yang digunakan oleh surveyor yang ditunjuk oleh penambang nikel dan industri smelter.

Hal itu untuk melihat lebih lanjut apakah ada persekongkolan antara surveyor yang ditunjuk oleh industri smelter dan perusahaan smelter itu sendiri.

(red/cnn-indonesia)