Kuasa Tanpa Moral

oleh -700 views

Oleh: Dino Umahuk, Sastrawan Indonesia

“Kekuasaan tak hanya punya kecenderungan untuk mengingkari batas, tetapi juga kemungkinan untuk berpaling dari cita-citanya sendiri. Setidaknya, kekuasaan lebih berisi godaan dan kenikmatan daripada pengabdian”.

Kekuasaan dan cita-cita berkuasa tak selalu hadir dalam getar gelombang yang sama. Ketika kekuasaan baru menjadi sebuah cita-cita, spirit mengabdi akan tampak suci. Tetapi ketika kekuasaan telah dipunyai, spirit inilah yang mula-mula terkotori.

Adam, ayah sejarah umat manusia sekaligus menjadi tamsil betapa tragis hubungan manusia dengan kekuasaan. Kisah ketergodaan dan pertaubatan Adam kemudian kita terima sebagai sebuah pesan abadi, sesungguhnya manusia adalah kodrat yang lemah. Mengutip firman Tuhan: mengeluh tatkala di dera musibah dan abai di saat menikmati (kuasa) kesenangan. (QS. al-Ma’arij)

Kekuasaan adalah media untuk mengabdi hanya jika penguasa rela hidup berjauhan dari kemewahan. Selama penguasa cenderung bermewah-mewah, mustahil ia tahan godaan. Inilah pula yang selama hidup Muhammad dan para sahabatnya praktikkan.

Baca Juga  Liverpool Tundukkan Sunderland 4-2 di Pramusim AS, Chiesa dan Szoboszlai Ikut Cetak Gol

Muhammad sendiri menegaskan peran kenabiannya demi untuk memperbaiki moralitas manusia. “Sesungguhya aku diutus untuk menyempurnakan kemuliaan akhlak.” Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, akhlak adalah budi pekerti atau kelakuan. Moral memiliki pengertian yang sama dengan akhlak.

No More Posts Available.

No more pages to load.