Kurikulum Merdeka, Memerdekakan Siapa?

oleh -509 views

Pilihan dari siswa terhadap cakupan materi pelajaran akan menentukan bagaimana pendidikan dilaksanakan tanpa harus terkungkung tempat dan waktu. Akses akan bahan-bahan sumber belajar yang dekat dengan siswa, baik melalui jaringan internet atau pun kedekatan dengan lingkungan dan peminatan, menjadi dasar menentukan proyek belajar. Kungkungan tempat, waktu dan kelas-kelas dalam sekolah tidak akan ada lagi. Beban satuan pelajaran dirumuskan sendiri dan ditetapkan bersama dengan guru mengacu kepada target capaian belajar yang hanya berbentuk besaran pokok tujuan pembelajaran. Peserta belajar benar-benar memiliki pilihan menentukan sendiri bagaimana cara mencapai tujuan pembelajaran.

Sekolah atau satuan pendidikan bukan lagi merupakan seonggok bangunan berisikan ruang-ruang kelas berisikan bangku-bangku dan anak-anak remaja berseragam. Sekolah bisa didesain seperti rumah, warung atau apa saja serupa tempat yang menyenangkan, sebagai tempat dimana peserta belajar sesekali bisa bertemu mengevaluasi capaian belajar. Sekolah memberikan fasilitas secara mandiri yang ditunjang oleh dana Bantuan Operasional Sekolah (BOS) dan diserahkan pengelolaannya secara murni kepada sekolah.

Baca Juga  Sarmuji: Golkar Tak Khawatir dengan Safari Politik Jokowi

Ruang belajar bisa kebun, dapur. lapangan olah raga bengkel, laboratorium atau apa saja yang dipilih oleh peserta belajar. Pertemuan tidak harus dalam bentuk tatap muka dan kasat mata. Jam belajar juga tidak harus dalam jam tertentu. Segala sesuatu yang dipilih dan disepakati oleh peserta belajar, itulah yang dikerjakan. Sungguh sebuah desain kurikulum pembelajaran yang dahsyat dan ideal dalam membangun kapasitas dan kapabilitas insan Indonesia berkarakter.

No More Posts Available.

No more pages to load.