Kurikulum Merdeka, Memerdekakan Siapa?

oleh -504 views

Betapapun desain seperti ini bukan hal baru dalam konteks pendidikan Indonesia, tetapi, belum pernah terjadi sebelumnya, jika hal ini menjadi kebijakan yang berskala nasional. Dalam catatan sejarah pendidikan Indonesia, Ki Hajar Dewantara sebagai bapak pendidikan memperkenalkan 3 N di Taman Siswa. Niteni, Nirokke, dan Nambahi adalah konsep pendidikan Taman Siswa sejak tahun 1928, yang memiliki kesamaan semangat dan nafas dalam menyelenggarakan pendidikan.

Dalam tawaran ki Hajar Dewantara niteni berarti mengerti, mendalami atau memahami. Nirokke berarti meniru, mencontoh atau meneladani. Dan nambahi berarti menambahkan, memperkaya dan memperluas. Pendidikan menurut Ki Hajar sejatinya harus mampu membuat peserta didik mandiri untuk bisa mengerti, meneladani, dan memperluas cakupan kehidupan di sekelilingnya. Baik pada aspek pengetahuan dan perilakunya.

Baca Juga  Pendapatan Negara di Maluku Tumbuh 14,94 Persen, DJPb: APBN Terus Topang Ekonomi Daerah

Selain yang ditawarkan oleh Ki Hajar, era 70 – 80 bermunculan konsep pendidikan partisipatif dan model pendidikan andragogi. Dalam nafas yang sama, orientasinya bahwa peserta belajar sebagai subjek pendidikan yang menentukan sendiri apa yang ingin digelutinya. Berikutnya, mulai tahun 2000 sampai sekarang beragam lembaga pendidikan swasta menawarkan konsep Sekolah Alam yang kurikulumnya dirancang sesuai peminatan dan kemandirian siswa. Termasuk juga di lembaga pendidikan berbasis keagamaan seperti di Pondok Pesantren dan sekolah keagamaan lain yang secara usia jauh sudah hadir sebelum lembaga pendidikan moderen hadir.

No More Posts Available.

No more pages to load.