Lahan Basah 3T

oleh -211 views

Siapa yang tega menolak? Bayangan tentang anak-anak yang belajar dengan perut kosong memiliki daya lunak yang luar biasa. Ia mampu meluluhkan hitung-hitungan politik. Seperti pisau panas yang membelah mentega, alasan kemanusiaan sering membuat keberatan-keberatan menjadi cair.

Apalagi jika disebut tiga huruf yang sakti itu: 3T. Tertinggal. Terdepan. Terluar. Tiga huruf yang mengandung rasa bersalah sekaligus harapan.

Sebab republik ini tahu, pembangunan sering berjalan seperti tamu kondangan yang lebih lama duduk di ruang depan. Ada kamar-kamar di belakang rumah yang sesekali dilongok saat menjelang pemilu, lalu dilupakan lagi setelah pesta usai.

Karena itu, ketika pemerintah mengatakan bahwa MBG juga akan menjangkau wilayah 3T, banyak orang menganggap inilah sisi paling mulia dari program tersebut. Negara akhirnya datang bukan hanya membawa bendera dan pidato, melainkan juga sepiring makanan bergizi.

Sayangnya, niat baik sering mengundang tamu yang tidak diundang. Beberapa waktu terakhir, cerita tentang MBG berubah drastis. Program yang semula dipromosikan sebagai investasi masa depan bangsa mendadak masuk wilayah hukum.

Baca Juga  Jaksa KPK Ungkap Dirjen Bea Cukai Djaka Budi Utama Terima Rp3 M per Bulan di Sidang Bos Blueray Cargo

Padahal kritik terhadap MBG sebenarnya sudah muncul sejak awal. Ada yang mempertanyakan kesiapan pelaksanaannya. Ada yang mengingatkan tentang potensi kebocoran anggaran. Ada yang meminta pengawasan diperketat.

No More Posts Available.

No more pages to load.