Ternate, 26 Maret 2014
Semalam di Amboina
ada darah yang mengucur di telapak kakiku
ada cemas yang mengepung dua bola matamu
ada purnama yang larut di asin air laut
malam itu di manuala. di unggun-unggun api
dan kecipak ombak. dan pantai indah tanah amboina
terasa kian menderu kasihmu padaku
ah kamu. seribu rumpun bunga tak seharum cintamu
ada dua botol wine pecah tak sengaja dan kasihmu bersahaja
ada anak-anak muda menyanyikan lagu amboina
malam itu di manuala. di unggun-unggun cinta
kita mengukir kenangan di sela kecipak ombak
dan aku semakin terbuai di pangkuanmu merebut harap
sebab engkau adalah laut tempat malam menidurkan gairah lelaki
ada ikan di bara api dan dedaun gemulai menari
ada sopi membakar di hati dan lagu-lagu kasih abadi
malam itu di manuala. di unggun-unggun hati
angin timur dan ruap laut menjaga kisah kita di tanah amboina
di rimbun keningmu telah kutemukan teduh
dari segala yang membuatku merapuh
Ambon-Ternate. Juni-Agustus 201
Tentang lelaki yang Lupa Lautan
bolontio, ingatkah engkau pada perempuan berputing empat
yang memintamu kawin lari ketika kompeni begitu gencar meminta nyawa?
sumpah imam-imam bima itu pernah menghantuiku hingga hampir bunuh diri
lalu kau berkata: jangan takut dosa murhum, ini takdir kita sebagai pelaut
itu pelayaran terakhir sebelum pulang bersembah sujud
ketika nuku meminta begitu. kita patuh pada sang empu




