Ternate, 13 April 2014
Di Rahimmu Sebuah Taman Laut Meriwayatkan Rindu
selalu saja kau menenun pagi dengan airmata
begitu kapalkapal bersipacu melepas diri
dari ikatan dermaga. padahal sejak mula kau tahu
para pelaut tak mudah pulang memutus tualang
meski pelayaran tak pernah sampai.tak pernah selesai
walau tiba di pantaimu dalam dekap nan sembilu
di laut Halmahera yang hitam ini kubaca lagi waktu
tentang percakapan luka diujung utara kota tua
tentang rindu yang terus menyalakan kenangan
dan cinta yang tak bisa dipadamkan waktu
lalu hujan tibatiba membawaku pada ketakutan di sebuah dini hari
ketika ciumanmu sedingin kematian. lalu langit
rebah ke dalam matamu nan dahaga bagaikan gerhana
di bujur jejak bajak laut yang aku susur
suara panggilan itu datang lagi menjelang pagi
bagai zikir pancaroba dari aforisme sebuah perlayaran
yang menghempasku jauh ke tengah badai. bersama hujan
sedang aku hanyalah penyair yang kehilangan kata
dari pelayaran merapikan kenangan demi tetes hujan
yang luruh di keningmu sepagi dahulu
tirakat ombak dan amuk badai dari kitab penjamuan
bagai sajak dan lukisan cahaya matamu
yang terperangkap dalam sembilan pigura laut
hingga sembilan purnama nanti akan lahir ikan paus
di rahimmu sebuah taman laut meriwayatkan rindu
sebab engkau adalah kesabaran tak terbantah
yang selalu memintaku tinggal sejenak lebih lama
yang selalu melepasku berlayar dengan dada bergetar




