Ternate, 09 Agustus 2014
Herinneringen in Fort Rotterdam
ingatkah kau pada benteng tua itu oktovia?
benteng yang menjadi penanda tanah makassar
tempat kita datang bergegas saling menggemas?
di rotteddam, iya fort rotterdam
ia disusun dari berjuta batu dengan kepercayaan
yang saling mengikat satu dengan yang satu
mereka setia pada peristiwa, pada tanda dan kata-kata
yang menatanya pada segala cuaca. pada suasana
pada luka juga setia yang menama jalan cerita, demikian pula airmata
ingatkah kau oktovia, pada sopir taksi yang sengaja
menyesatkan kita menuju singgasana
padahal kita hafal betul lekuk jalan menuju kesana
dan kita hanya tersenyum saja melihatnya salah tingkah?
begitulah hidup dan angan-angan menipu kita para pecinta
agar jauh dari cita-cita tersebab cuaca yang mahalela
aku kangen betul tatap mata dan hangat pelukanmu
yang umpama matahari senja di batas dermaga
kita memang dimabuk asmara beribu rupa
ingatkah kau oktovia, pada sajak di malam itu?
yang bercerita tentang laut-tentang raut. wajahmu menghidu
rindu dan mencumbumu adalah dahaga paling haru
kita menjelma batu-batu juga cerita ilagaligo
ewako tenri, aku padamu ededeh…
begitu cintaku padamu oktovia
dalam banyak jejak. dalam banyak sajak
dan tiada sehasta jarak mendupa dari tanjung bunga
angin mamiri. mari ki’dii, bunga bersemi musim melimpahi




