2. Kekuasaan Tidak Boleh Digunakan untuk Menindas
Fir’aun tidak hanya dikenal karena kesombongannya. Ia juga menggunakan kekuasaannya untuk melakukan penindasan terhadap Bani Israil.
Allah SWT menggambarkan tindakan Fir’aun dalam Al-Qur’an Surah Al-Qashash ayat 4,
إِنَّ فِرْعَوْنَ عَلَا فِى ٱلْأَرْضِ وَجَعَلَ أَهْلَهَا شِيَعًا يَسْتَضْعِفُ طَآئِفَةً مِّنْهُمْ يُذَبِّحُ أَبْنَآءَهُمْ وَيَسْتَحْىِۦ نِسَآءَهُمْ ۚ إِنَّهُۥ كَانَ مِنَ ٱلْمُفْسِدِينَ
Artinya: “Sesungguhnya Fir’aun telah berbuat sewenang-wenang di muka bumi dan menjadikan penduduknya berpecah belah, dengan menindas segolongan dari mereka, menyembelih anak laki-laki mereka dan membiarkan hidup anak-anak perempuan mereka. Sesungguhnya Fir’aun termasuk orang-orang yang berbuat kerusakan.”
Ayat tersebut memperlihatkan bagaimana kekuasaan dapat menjadi alat kezaliman ketika tidak disertai keadilan.
Fir’aun membagi masyarakat ke dalam kelompok-kelompok dan melemahkan sebagian dari mereka. Bani Israil menjadi kelompok yang ditindas, bahkan anak laki-laki mereka dibunuh.
3. Jangan Menolak Kebenaran karena Kesombongan
Nabi Musa AS datang kepada Fir’aun membawa bukti-bukti kekuasaan Allah SWT. Namun, Fir’aun tetap menolak dan menganggap mukjizat yang dibawa Nabi Musa AS sebagai sihir.
Salah satu dialog tersebut diabadikan dalam Al-Qur’an.









