Artinya: “Dan Kami hendak memberi karunia kepada orang-orang yang tertindas di bumi (Mesir) itu dan hendak menjadikan mereka pemimpin dan menjadikan mereka orang-orang yang mewarisi (bumi).”
5. Harta dan Kekuasaan Tidak Dapat Menyelamatkan dari Azab Allah
Fir’aun memiliki kerajaan, pasukan, kekuasaan, dan berbagai fasilitas duniawi. Namun semua itu tidak mampu menyelamatkannya ketika azab Allah SWT datang.
Puncak kisah Fir’aun terjadi ketika ia mengejar Nabi Musa AS dan Bani Israil hingga ke laut. Dengan izin Allah SWT, laut terbelah dan Nabi Musa AS bersama pengikutnya dapat melintas.
Ketika Fir’aun dan pasukannya mengejar, laut kembali seperti semula sehingga mereka tenggelam.
Dalam keadaan akan tenggelam, Fir’aun akhirnya mengakui keimanannya.
Termaktub dalam Surah Yunus ayat 90,
۞ وَجَٰوَزْنَا بِبَنِىٓ إِسْرَٰٓءِيلَ ٱلْبَحْرَ فَأَتْبَعَهُمْ فِرْعَوْنُ وَجُنُودُهُۥ بَغْيًا وَعَدْوًا ۖ حَتَّىٰٓ إِذَآ أَدْرَكَهُ ٱلْغَرَقُ قَالَ ءَامَنتُ أَنَّهُۥ لَآ إِلَٰهَ إِلَّا ٱلَّذِىٓ ءَامَنَتْ بِهِۦ بَنُوٓا۟ إِسْرَٰٓءِيلَ وَأَنَا۠ مِنَ ٱلْمُسْلِمِينَ
Artinya: Dan Kami memungkinkan Bani Israil melintasi laut, lalu mereka diikuti oleh Fir’aun dan bala tentaranya, karena hendak menganiaya dan menindas (mereka); hingga bila Fir’aun itu telah hampir tenggelam berkatalah dia: “Saya percaya bahwa tidak ada Tuhan melainkan Tuhan yang dipercayai oleh Bani Israil, dan saya termasuk orang-orang yang berserah diri (kepada Allah)”.









