Jangan Selalu Menuduh Pemuda
Kita juga harus berhenti menjadikan pemuda sebagai kambing hitam setiap kali bentrokan terjadi. Pemuda memang sering berada di garis depan ketika konflik meledak, tetapi mereka bukan satu-satunya akar persoalan. Mereka adalah produk dari lingkungan sosial yang kita bangun dan dari cara orang dewasa mewariskan nilai, ketakutan, prasangka, maupun keberanian kepada generasi setelahnya.
Jika anak-anak muda tumbuh tanpa pekerjaan yang layak, tanpa ruang dialog, tanpa pendidikan perdamaian, tanpa ruang kreativitas, sementara media sosial setiap hari menawarkan potongan-potongan kemarahan yang mudah dibagikan dan sulit diverifikasi, jangan heran bila energi itu akhirnya menemukan jalannya.
Hari ini sebuah konflik tidak membutuhkan waktu panjang untuk menyebar. Satu video, satu pesan suara, satu foto, satu tuduhan, atau satu kalimat yang tidak diverifikasi dapat bergerak dari satu telepon genggam ke telepon genggam lainnya sebelum siapa pun sempat memastikan kebenarannya. Kemarahan bergerak lebih cepat daripada klarifikasi, sementara emosi sering kali lebih mudah dipercaya daripada fakta.
Karena itu, menjaga perdamaian di Maluku hari ini juga berarti menjaga ruang informasi. Kita harus belajar bahwa tidak semua yang beredar di media sosial layak dipercaya, tidak semua video menunjukkan keseluruhan peristiwa, dan tidak semua suara yang terdengar meyakinkan membawa kebenaran. Jangan biarkan kabar yang belum tentu benar menjadi bensin bagi api yang sudah menyala.









