Lisabata–Patahuwe dan Luka yang Tak Pernah Benar-Benar Kering

oleh -217 Dilihat

Di sinilah kita seharusnya belajar bahwa sebuah konflik besar sering kali tidak dimulai dengan kebencian besar. Ia bisa bermula dari satu tuduhan yang tidak terverifikasi, lalu seseorang merasa harga dirinya diserang, satu orang bergerak, yang lain merasa harus membela, dan perlahan kata “beta” berubah menjadi “katong”. Ketika “katong” sudah berdiri berhadapan dengan “dong”, akal sehat sering kali berjalan lebih lambat daripada amarah. Pada saat itulah persoalan personal menemukan identitas komunalnya, dan konflik yang seharusnya bisa diselesaikan oleh beberapa orang berubah menjadi luka yang harus ditanggung banyak orang.

Maluku dan Ingatan yang Tidak Pernah Sederhana

Kita tidak boleh lupa bahwa Maluku pernah melewati lorong sejarah yang gelap. Konflik komunal pada penghujung 1990-an meninggalkan terlalu banyak kehilangan: keluarga yang tercerai, rumah yang ditinggalkan, kehidupan yang terputus, dan orang-orang yang tumbuh bersama trauma. Ada anak-anak yang kemudian dewasa dengan cerita tentang siapa yang pernah menyerang siapa, siapa yang harus dicurigai, dan siapa yang harus dijauhi.

Baca Juga  Peneliti Anthropic Peringatkan Risiko AI Bisa Musnahkan Manusia dalam 10 Tahun

Sebagian generasi hari ini mungkin tidak mengalami konflik itu secara langsung. Tetapi ingatan tidak membutuhkan pengalaman langsung untuk diwariskan. Ia dapat hidup melalui cerita yang berulang di rumah, melalui nasihat orang tua, melalui ketakutan yang ditanam tanpa sengaja, bahkan melalui kalimat sederhana yang mungkin dianggap biasa: “Dulu dong begitu,” atau “Jang percaya dong,” atau “Kalau terjadi apa-apa, katong harus siap.”

No More Posts Available.

No more pages to load.