Kalimat-kalimat seperti itu, jika terus diwariskan tanpa pernah dibicarakan secara terbuka, dapat berubah menjadi bara yang disimpan dalam ingatan. Karena itu, setiap konflik baru di Maluku tidak selalu berdiri sendirian. Ia bisa membawa bayangan konflik lama ke dalam dirinya, bahkan ketika orang-orang yang terlibat hari ini tidak pernah mengalami langsung apa yang terjadi puluhan tahun lalu.
Maka ketika bentrokan pecah, yang berhadapan bukan hanya dua kelompok manusia hari ini. Bisa jadi yang ikut berdiri di antara mereka adalah ingatan tentang kemarin.
Inilah pekerjaan paling berat yang sebenarnya harus kita lakukan: memutus mata rantai pewarisan kebencian. Jangan sampai anak-anak Maluku mewarisi pertanyaan tentang siapa musuh mereka sebelum mereka sempat mengenal siapa saudara mereka. Jangan sampai tanah yang seharusnya menjadi tempat tumbuh bersama justru mengajarkan kepada generasi berikutnya bahwa tetangga adalah ancaman yang harus dicurigai.
Kita Punya Pela, Gandong, tetapi Apakah Kita Menghidupkannya?
Ironi terbesar Maluku adalah kita sesungguhnya tidak miskin akan pengetahuan tentang perdamaian. Kita punya pela, punya gandong, punya adat, punya raja negeri, punya tokoh agama, punya tokoh masyarakat, dan punya sejarah panjang tentang bagaimana orang-orang yang pernah bermusuhan akhirnya memilih duduk bersama, membuka percakapan, dan mengikat kembali persaudaraan.









