Gambar yang diunggahnya viral: garis batas dua sungai membentuk pemandangan sureal. Kali Muria tetap jernih, Kali Mancelele berubah menjadi sungai mati. Di antara keduanya, batas itu bukan sekadar warna air, tapi batas moral, batas keberpihakan, batas logika negara.
Kenapa Kita Diam?
Halmahera Timur selama ini menjadi surga mineral: nikel, emas, hingga kobalt. Tapi dengan kekayaan itu datang pula kehancuran—hutan gundul, sungai tercemar, masyarakat tercerabut dari tanahnya.
Subaim, yang dulunya dikenal sebagai lumbung pangan dan kawasan transmigrasi andalan, kini perlahan berubah menjadi medan luka ekologis. Tanah yang dulu menumbuhkan padi, kini hanya menumbuhkan debu.
Nurhakiki menutup unggahannya dengan kalimat menggugah: “Semoga dong sadar, pintar deng barani, dorang bukan bodoh, tapi buta batin.”
Ia bicara tentang mereka yang punya kuasa, tapi memilih membungkam. Ia bicara tentang aparat, pejabat, dan intelektual lokal yang memalingkan wajah dari kehancuran yang terjadi tepat di depan mata.
Harus Ada yang Bertindak
Luka ekologis Halmahera Timur bukan sekadar isu lingkungan. Ini soal keadilan antargenerasi. Soal apakah kita rela mewariskan tanah rusak dan sungai mati kepada anak cucu.
Foto dua sungai itu bukan cuma pemandangan alam; ia adalah peringatan. Jika tak ada yang berubah, sungai-sungai Halmahera Timur hanya akan menjadi sejarah—dan kita semua menjadi bagian dari dosa kolektif itu. (red)









