Nah, hutan gambut ini yang menjadi ‘karpet’ sebagian wilayah Kalimantan dan Sumatera (juga di Latin Amerika). Tanaman-tanaman tumbuh diatasnya, akarnya saling menjalin dibawah seperti anyaman, dibawahnya ada lapisan bekas tanaman yang menumpuk.
Hutan ini akan tergenang air selama musim hujan. Dia juga menahan air selama musim kemarau. Nah, bisa Sodara bayangkan bagaimana kalau hutan ini dibabat, kayunya dijual, dan kanal-kanal dibangun? Artinya, hutan dengan lapisan gambut tebal ini akan kering. Dan, gambut ini adalah batubara muda. Bayangkan kalau ia terbakar.
Itulah karakter kebakaran hutan di Sumatera dan Kalimantan selama ini. Di permukaan tidak tampak ada kebakaran. Namun, begitu Sodara injakkan kaki di tanah yang tampak keras (solid), Sodara bisa terjeblos beberapa meter dan dibawah api masih membara.
Bencana ekologis akibat pengeringan lahan gambut ini menjadi bencana ekologis yang paling mengerikan. Bukalah berita-berita akhir tahun 1990an tentang kebakaran hutan. Saat itu Indonesia menyumbang asap kebakaran hutan yang amat besar. Abu kebakaran hutan ini melayang hingga Eropa.
Salah satunya karena kebakaran di areal gambut proyek mercusuar sejuta hektar tersebut.
Saya pernah melakukan riset tentang kekerasan komunal di wilayah Kalimantan Tengah. Empat puluh ribuan KK yang ditransmigrasi kesana lari tunggang langgang ketika kebakaran. Tunjangan jaminan hidup mereka sudah habis. Tanah mereka tidak menghasilkan karena memang lahan gambut terkenal akan ketidaksuburannya. Soal inilah salah satu, diantara banyak faktor lainnya, yang menyebabkan ketegangan sosial dan akhirnya menjadi kekerasan etnik.




