Oleh: Made Supriatma, Peneliti Politik dan Militer
Di masa pandemi ini, semua sektor ekonomi terancam. Termasuk pangan. Itulah sebabnya pemerintah menengok kembali program pangan yang pernah ada namun ditinggalkan.
Mungkin Anda masih terlalu kecil untuk tahu bahwa sebelum jatuh, Soeharto pernah bikin program “Sawah Sejuta Hektar.” Bukan. Bukan seperti yang mau dibikin oleh SBY dengan ‘food estate’ di Merauke itu.
Ini Proyek Lahan Gambut Sejuta Hektar. Lokasinya di Kalimantan Tengah. Idenya adalah mengeringkan lahan gambut dengan cara membabat hutannya, menjual kayunya, kemudian membikin kanal-kanal untuk mengatur air, dan menanam padi. Di atas kertas, ini adalah program yang indah. Rakyat kenyang, pemerintah senang.
Kecuali bahwa proyek itu tidak seindah yang dibayangkan. Ekosistem gambut itu sangat berbeda dengan tanah pertanian di Jawa (kita selalu membandingkan segala sesuatu dengan yang di Jawa). Gambut itu kasarnya tumpukan bekas-bekas tanaman yang tebalnya bisa sampai beberapa meter. Dia hasil pembusukan tanaman yang mati, bertumpuk ribuan bahkan jutaan tahun. Harusnya dia jadi batubara. Namun belum jadi. Kalau di Kalimantan, dibawah lapisan gambut ini ada pasir kwarsa berwarna putih. Iya pasir. Yang tidak bisa ditumbuhi apa-apa karena tidak ada unsur hara.




