Numpang Isu Papua, Menlu RMS Kirim Surat Terbuka Kepada Dunia Internasional

oleh -432 views
Link Banner

Porostimur.com | Ambon: Dugaan ujaran rasisme terhadap mahasiswa Papua di Surabaya dan Malang yang berimbas pada terjadinya kerusuhan di sejumlah kota di provinsi Papua dan Papua Barat, tidak hanya menyita perhatian publik nasional, tetapi juga mendapat perhatian international.

Sebagaimana diberitakan media ini sebelumnya bahwa kerusuhan di Papua mendapat perhatian media internasional. Masalah Papua juga mendapat perhatian serius dari negara-negara di Pasifik.

Pemerintah Indonesia, nampaknya harus lebih waspada, sebab di tengah krusialnya masalah Papua, salah satu kelompok separatis, yakni Republik Maluku Selatan (RMS) juga ikut menumpang dan memanfaatkan momentum tersebut untuk menarik perhatian publik internasional.

Umar Santi

Adalah Umar Santi, salah satu pentolan Republik Maluku Selatan, yang pada tanggal 23 Agustus 2019 lalu mengirimkan Surat Terbuka kepada seganap bangsa-bangsa di dunia.

Link Banner

Umar Santi yang menyebut dirinya dalam kapasitas sebagai Menteri Luar Negeri RMS, menulis bahwa, pihaknya mendukung perjuangan panjang saudara-saudari di Papua untuk menentang pendudukan Indonesia dan praktik penahanan, pengawasan, dan penyiksaan yang terkait dengan militer dan pasukan keamanan Indonesia yang secara selektif menargetkan kaum minoritas pribumi.

Baca Juga  Spanyol Lockdown Karena Virus Corona, Real Madrid Kampanyekan #StayHome

Dalam surat yang ditulis di Breda itu, Umar Santi juga menyebut bahwa, pihaknya bersama dengan saudara dan saudari di Papua, berjuang untuk kesetaraan, demokrasi sejati, dan untuk kebebasan dan keadilan bagi masyarakat Papua dan Maluku.

Umar Santi ketika berpidato pada sebuah forum

Berikut naskah lengkap Surat Terbuka Umar Santi:

Breda, the Netherlands 23 August 2019

Surat Terbuka untuk Semua Bangsa dan Bangsa, yang Tidak Terwakili Pernyataan Solidaritas dengan Rakyat Papua Barat di Indonesia, dari Pemerintah Republik Maluku Selatan di Pengasingan (RMS)

Sebagai anggota masyarakat global yang beradab dan orang-orang yang memiliki hati nurani,  menyerukan solidaritas kepada saudara dan saudari kami di Papua, Indonesia, yang menderita karena perlakuan rasial-diskriminasi dari petugas keamanan Indonesia.

Kami berdiri dalam solidaritas dengan putri-putri Papua. Saudari dan saudara lelaki kami telah dilecehkan dan dianiaya di Surabaya, Malang atau kota-kota lain di Jawa. Bahkan di pulau Papua yang diduduki Indonesia, yaitu Papua Barat.

Baca Juga  Hujan Deras Warnai Upacara HUT TNI ke-74 di Ambon

Seperti kita ketahui bersama, saudara dan saudari kita di Papua terus hidup di bawah pendudukan Indonesia yang telah menghancurkan keluarga, tanah dan cara hidup mereka, dan mengalami peningkatan diskriminasi rasial dan pembatasan kebebasan, yang belum pernah terjadi, sebelum invasi Indonesia melalui referendum manipulatif “Pepera” pada tahun 1969.

Sejak beberapa hari terakhir, kami terus menerima berita tentang kekerasan yang terjadi di kota-kota di Papua Barat seperti Sorong, Manokwari dan Fakfak. Apa artinya, jika saat ini masyarakat internasional mengamati apa yang sedang terjadi?

Ancaman lisan dan cercaan yang dilakukan petugas keamanan Indonesia terhadap orang Papua bukan sekadar omong kosong, karena tindakan diskriminatif rasial merupakan kelanjutan dari kegiatan represif terhadap penduduk asli.

Sebagai sesama anggota masyarakat global yang beradab dan orang-orang yang anti-imperialis yang memiliki hati nurani, kami menentang kebijakan langsung dan tidak langsung, dan tindakan diskriminasi etnik atau rasial dari penduduk asli oleh semua negara-bangsa di semua negara.

Baca Juga  Polsek Jayapura Selatan Amankan Penimbun BBM

Kami berdiri dalam solidaritas dengan semua negara bebas dan tidak terwakili gerakan bangsa dan rakyat yang menentang imperalisme, pendudukan asing, militerisme dan eksploitasi ekonomi serta melawan fundamentalisme agama dan sekule,r termasuk segala bentuk diskriminasi.

Kami juga mendukung perjuangan panjang saudara-saudari kita di Papua untuk menentang pendudukan Indonesia dan praktik penahanan, pengawasan, dan penyiksaan yang terkait dengan militer dan pasukan keamanan Indonesia yang secara selektif menargetkan kaum minoritas pribumi.

Bersama dengan saudara dan saudari kami di Papua, kami berjuang untuk kesetaraan, demokrasi sejati, dan untuk kebebasan dan keadilan bagi masyarakat Papua dan Maluku.

Kami akan mengakhiri surat terbuka ini untuk memberi hormat kepada orang-orang Papua: Papua, Merdeka! Mena Muria!

Atas nama Pemerintah Republik Maluku Selatan di Pengasingan (RMS)

Mr. Umar Santi

Menteri Luar Negeri.