Para peneliti menemukan bahwa sebagian besar manuskrip Al-Qur’an awal menggunakan gaya tulisan ini sebelum berkembang menjadi Kufik yang lebih geometris.
Menariknya, melalui perbandingan bentuk tulisan dan bahan perkamen, diduga bahwa Bibliothèque nationale de France (BnF) di Paris menyimpan 16 halaman lain yang berasal dari naskah yang sama, dikatalogkan sebagai BnF Arabe 328c. Bagian naskah tersebut diyakini terkait dengan Masjid Amr ibn al-‘As di Fustat, Mesir, masjid pertama yang dibangun di negara tersebut pada tahun 642.
Manuskrip Al-Qur’an Birmingham memberikan kontribusi besar bagi kajian sejarah Islam. Penanggalan radiokarbon yang menunjukkan kedekatan naskah ini dengan masa Nabi Muhammad SAW menjadi bukti kuat mengenai keaslian Al-Qur’an yang selama ini dijaga oleh umat Islam.
Bagi kaum muslimin, temuan ini memperkuat keyakinan bahwa Al-Qur’an telah diturunkan dan dijaga autentisitasnya sejak pertama kali diwahyukan hingga sekarang. Sementara bagi dunia akademik, manuskrip ini merupakan harta karun yang membantu memahami perkembangan penulisan, transmisi, dan pelestarian Al-Qur’an sejak abad pertama Hijriyah.
Hasil Penanggalan Radiokarbon
Universitas Oxford melakukan uji radiokarbon terhadap perkamen yang digunakan dalam naskah ini pada tahun 2014. Hasilnya menunjukkan bahwa perkamen tersebut berasal dari rentang tahun 568 hingga 645 M dengan tingkat kepastian 95,4%.









