Kemudian framing. Ini adalah cara untuk membentuk opini terhadap lawan. Dalam hal ini para buzzer yang ambil peranan. Mereka menggambarkan orang-orang yang anti MBG adalah anti rakyat miskin.
Argumen ini tidak saja disodorkan para buzzer dan influencer. Juga politisi-politisi dalam koalisi Prabowo-Gibran. Pokoknya MBG adalah untuk rakyat miskin! Anti MBG berarti anti pengentasan kemiskinan.
Saya melihat ada yang sampai menangis bercerita bagaimana anak-anak miskin tidak bisa belajar karena perut kosong. Tersedu-sedu. Mirip Nanik Deyang menangis sesenggukan minta belas kasihan karena kegagalan lembaga yang dipimpinnya mencegah keracunan anak-anak penerima MBG.
Argumen ini tentunya argumen boncos! Kalau sasarannya adalah anak-anak miskin mengapa MBG tidak menargetkan itu saja? Kalau memang ingin mencegah stunting, mengapa tidak fokus pada 19% anak-anak Indonesia penderita stunting saja?
Mengapa membuat MBG menjadi program “universal entitlement” yakni memberi makan kepada semua anak sekolah, balita, dan ibu hamil? Presiden berkali-kali dengan bangga bilang bahwa program ini telah memberi makan 62 juta lebih penerima manfaat. Tapi, apakah 62 juta lebih mereka itu merasakan program ini bermanfaat?









