Oleh: Yunus Serang, Fungsionaris Partai Golkar Maluku
Partai Golkar pernah menjadi kekuatan politik dominan di Maluku. Dalam rentang sejarah panjang politik lokal, Golkar tidak hanya hadir sebagai mesin elektoral, tetapi juga sebagai partai yang mampu menjembatani kepentingan masyarakat kepulauan, birokrasi, dan dunia usaha. Namun, dinamika politik pascareformasi, fragmentasi elite, serta munculnya partai-partai baru membuat dominasi tersebut perlahan memudar. Kini, pertanyaannya bukan lagi apakah Golkar bisa bangkit, melainkan bagaimana strategi konkret untuk mengembalikan Golkar sebagai partai besar dan pemenang di Maluku.
Membaca Realitas Politik Maluku
Maluku memiliki karakter politik yang unik. Wilayah kepulauan yang luas, basis masyarakat adat yang kuat, serta keberagaman agama dan budaya menjadikan pendekatan politik di daerah ini tidak bisa disamakan dengan daerah lain. Partai politik yang ingin menjadi pemenang harus mampu membaca realitas sosial ini secara mendalam.
Golkar memiliki modal historis yang kuat di Maluku. Jaringan lama yang pernah terbentuk hingga ke desa-desa masih menyisakan jejak. Namun, jaringan ini tidak otomatis menjadi kekuatan jika tidak dirawat dan diperbarui. Dalam beberapa tahun terakhir, Golkar di Maluku terlihat lebih banyak bergerak dalam pola elite-sentris, sementara partai lain justru agresif membangun basis di tingkat akar rumput.









