Oleh: Sam Pormes, Anggota Dewan provinsi Drenthe, dan mantan Senator Belanda
Pengakuan atas penderitaan masyarakat Maluku, menuntut keberanian menghadapi seluruh kebenaran sejarah.
Perhatian sering kali diberikan pada pengakuan atas ketidakadilan yang dialami keluarga-keluarga suku Maluku, setelah kedatangan mereka di Belanda. Hal itu memang wajar dan pantas.
Namun, pengakuan yang sungguh-sungguh tidak mungkin terwujud tanpa juga meninjau secara kritis sejarah kolonial Belanda.
Seruan untuk mengakui penderitaan yang dialami keluarga-keluarga Maluku di Belanda layak mendapatkan dukungan.
Kehidupan di kamp-kamp penampungan, pengangguran yang dipaksakan, ketidakpastian yang berlangsung selama bertahun-tahun, serta perasaan ditinggalkan oleh pemerintah Belanda telah meninggalkan luka yang mendalam. Masa lalu tersebut layak mendapatkan pengakuan.
Namun justru karena itu, kita harus berhati-hati agar pengakuan tidak berubah menjadi kisah yang disederhanakan, di mana hanya sebagian dari sejarah yang diceritakan.
Sebab sejarah masyarakat Maluku di Belanda tidak dimulai pada tahun 1951, melainkan di Hindia Belanda.
Kesetiaan, loyalitas, dan pengorbanan
Selama puluhan tahun, ribuan orang Maluku menjadi bagian dari KNIL (Tentara Kerajaan Hindia Belanda). Masa lalu ini sering digambarkan dalam istilah kesetiaan, loyalitas, dan pengorbanan.










