Tasawuf Profetik
Kecenderungan tasawuf yang lebih mengarah kepada prilaku sufistik, mistikus yang memberikan citra jauh dari pribadi yang mampu menjawab problematika sosial (Social Solution), padahal kita tahu bahwa sebaik-baiknya pahala individu lebih bernilai pahala sosial, dan seburuk-buruknya dosa individu maka lebih buruk lagi dosa sosial.
Sebagaimana penulis mengkontekstualisasikan ibadah sosial yang sesuai dengan Q.S Al-Isra Ayat 26-31 : “adalah saling membantu (tolong-menolong) yakni membantu keluarga dekat dan orang-orang yang tidak mampu seperti orang miskin dan ibnu sabil baik bantuan dalam bentuk materi maupun immateri. Dan jika tidak bisa memberikan bantuan maka ucapkan dengan perkataan yang baik, yakni dengan perkataan yang lemah lembut, ramah dan sopan.”
Sekali lagi untuk menjawab itu semua yang kita butuhkan adalah instrumen ilmu sosial profetik yang penulis konversikan sebagai tasawuf profetik, yaitu tasawuf yang tidak saja mendeskripsikan dan mengubah fenomena sosial tapi juga memberikan petunjuk ke arah mana transformasi itu dilakukan. Untuk apa dan oleh siapa. Oleh sebeb itu tasawuf profetik tidak saja mengubah demi perubahan, tapi mengubah berdasarkan cita-cita etik dan profetik, ialah cita-cita yang diidamkan masyarakat (Masyarakat Paripurna).








