Tidak sejalan dengan Muhammad Iqbal yang memotret Nabi Muhammad SAW dalam peristiwa mi’raj sebagai seorang sufi belaka, dikarenakan nabi hanya dipandang telah melakukan suatu perjalanan peleburan dengan Tuhan. Hal ini keliru, sebab secara hirarkis nabi kembali ke bumi untuk menggerakkan perubahan sosial, dan merekayasa jalannya sejarah.
Inilah yang penulis identikkan nabi sebagai sufisme profetik yang telah melakukan gerak transendensi, menuju pembebasan liberasi, dan mewujudkan cita humanisasi (emansipasi), sebagaimana terkandung dalam Q.S Ali ‘Imran ayat 110 : “Engkau adalah ummat terbaik yang di turunkan di tengah manusia untuk menegakkan kebaikan, mencegah kemungkaran, dan beriman kepada Allah.”
Tujuan humanisasi ialah memanusiakan manusia. Realitas membuktikan bahwa kita dikungkung dalam jeruji humanisasi bertransformasi ke dalam manusia industrial dan menjadikan kita sebagai masyarakat yang kabur tanpa wajah kemanusiaan, keillahian. Tujuan liberasi adalah pembebasan umat dari penindasan kolonialisme, kapitalisme, kerakusan globalisasi, dan pemaksaan westernisasi, serta mereka yang tergusur oleh kekuatan ekonomi raksasa. Sedang tujuan transendensi yaitu menghidupkan kembali dimensi transcendental yang merupakan ketunggalan fitrah kemanusiaan. Di mana kita ingin hidup di dalam dunia yang ditenun dengan asma ketuhanan arrahman-arrahim (cinta kasih-sayang).








