Tasawuf Inklusif
Tasawuf haruslah diimplementasikan sebagai paradigma yang terbuka, bahwa kita mewarisi sebuah sejarah peradaban manusia secara universal itu adalah keniscayaan. Oleh sebabnya bersikap diskriminasi, membeda-bedakan (diferensiasi) hanyalah akan mengarahkan kita ke tindakan eksklusif.
Hampir seluruhnya peradaban agama-agama samawi dan non samawi mengalami proses meminjam dan memberi dalam seluruh perpapasan mereka antara satu sama lain sepanjang sejarah. Oleh sebab itu sikap eksklusif hampir tidak mendapat tempat dalam bermacam aliran ajaran keagamaan sebab perbuatan itu justru a-historis, dan tidak realistis.
Sufisme yang eksklusif ialah sufisme yang terbata membaca sejarah. Meminjam perkataan Allahuyarham Nur Cholis Majid, umat islam haruslah bergerak dari islam rumahan menuju islam alam semesta. Tasawuf inklusif mengajarkan kita untuk mengosongkan ritual-ritual kamar dan meramaikan masjid, masjid tidak hanya dipandang sebagai candi-candi islam akan tetapi masjid haruslah memberikan kemakmuran dan mensejahterakan masyarakat. Masjid haruslah dijadikan basis perlawanan kekuasaan politik yang zalim.
Demikianlah maksud dari paradigma tasawuf profetik menuju tasawuf inklusif yang hendak disampaikan penulis yang penuh dengan kehati-hatian. Untuk menyudahi tulisan ini saya ingin mengatakan ‘jikalah engkau ingin melihat wajah Tuhan, maka lihatlah diantara wajahnya kaum Mustadh‘afin’. ‘Pembaca ialah raja sedang penulis hanyalah selir yang menuangkan anggur didalam cawan emas’








