Menghitung Kekuatan di Luar Istana

oleh -33 Dilihat
Toni Rosyid

Keempat, Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) dengan partai Demokratnya. SBY sangat ingin anaknya yaitu Agus Harimurti Yudhoyono (AHY) jadi presiden.

Selama ini, upaya SBY mendorong AHY jadi cawapres sebagai step awal menuju capres, masih mengalami kegagalan. Upaya dipasangkan dengan Prabowo di tahun 2019 dan 2024, gagal. Dengan Anies di pilpres 2024 juga gagal.

Bagi SBY, Prabowo sampai 2029 atau tidak, gak ada pengaruhnya. Prabowo satu periode atau dua periode, gak juga memberi efek politik apapun bagi AHY maupun Demokrat. Bagi SBY, apapun situasi politiknya, yang penting AHY jadi cawapres. Step awal sebelum nantinya menunggu momentum untuk jadi capres.

SBY dan Demokrat tidak ambil pusing dengan dinamika dan ketegangan politik hari ini. Terutama antara Solo vs istana. Bagi SBY dan Demokrat yang perlu dipertahankan adalah kepala daerah tetap dipilih oleh rakyat dan presidential threshold Nol Persen. Dengan keputusan ini, Demokrat akan tetap punya prospek untuk menaikkan suaranya dan harga tawar AHY untuk jadi cawapres di pemilu 2029 akan cukup tinggi.

Bagaimana dengan Surya Paloh dan Nasdem? Wait and see. Lihat situasi. Saat ini, Surya Paloh memilih berada di luar istana setelah perseteruan, bahkan banyaknya pressure kepadanya di akhir periode Jokowi. Dengan memiliki tiga jabatan ketua komisi dan enam wakil ketua komisi di DPR RI, Surya Paloh dan Nasdem bisa aktif ikut memantau dan mengawal dinamika politik yang ada. Surya dan Nasdem menunggu momentum yang tepat untuk bergerak dan menentukan pilihan politiknya.

No More Posts Available.

No more pages to load.