Kedua, kekuatan Megawati. PDIP, partai besutan Megawati punya suara 16 persen hasil pemilu 2024. PDIP adalah partai pemenang pemilu. PDIP punya basis massa militan. Pendukungnya cukup solid. Sejumlah kader elitnya berpengalaman dan cukup piawai untuk bergerak dengan senyap.
Posisi PDIP jelas: sebagai partai penyeimbang. Ini dinyatakan dengan tegas oleh Megawati. Penyeimbang itu oposisi. PDIP dengan sangat jelas mengambil posisi di luar kekuasaan Prabowo. Pertanyaannya: apakah PDIP punya daya tahan untuk menunggu Prabowo dua periode? apakah PDIP punya cukup kesabaran untuk menjadi oposisi dan berada di luar kekuasaan hingga 2034?
Ketiga, tokoh nasional Anies Baswedan. Selama ini, Anies selalu masuk 2-3 besar kandidat capres tertinggi dalam survei. Anies dan pendukung militannya dikenal idealis. Bagi Anies dan para pendukung, tak masalah Prabowo satu periode atau dua periode. Yang penting kepemimpinan Prabowo mampu memberikan jaminan kesejahteraan dan keadilan bagi rakyat, juga kemajuan bagi bangsa. Titik ! Apakah saat ini ekspektasi Anies dan para pendukungnya mampu dipenuhi oleh Prabowo?
Fakta bahwa kepuasan publik terhadap pemerintahan Prabowo di angka 51,1 persen dan tingkat elektabilitasnya di angka 14,5 persen. Ini bisa dimaknai sebagai indikator bahwa apa yang dilakukan Prabowo masih berada dibawah ekspektasi para pendukung Anies. Lalu, bagaimana sikap Anies dan para pendukungnya? Apakah akan menjadi “Poros Alternatif?”








