Adapun PKB dan PAN, meminjam istilahnya Mancur Olson dalam buku “The Logic of Collective Action” adalah “Free Riders”. Penumpang bebas. Gak perlu ikut berkeringat, apalagi keluar darah, PKB dan PAN akan selalu ikut menikmati ghanimah kekuasaan. Siapapun pemenangnya, PKB dan PAN bisa merapat.
PKB bisa mengkapitalisasi basisnya di NU untuk bernegosiasi dengan pemenang politik yang menduduki kekuasaan. Begitu juga ormas Muhammadiyah yang selalu memiliki harga tawar bagi PAN.
Dinamika politik saat ini, jika terjadi eskalasi, tidak terlalu menghitung posisi PKB dan PAN. Dinamikanya berada di lingkaran istana dan rivalitasnya dengan kekuatan Jokowi, Megawati dan Anies Baswedan. SBY akan menunggu perkembangan dan hasil di pertengahan. PKB dan PAN ada di ujung, selalu ikut menikmati pesta setelah semuanya selesai.
Penjelasan atas kalkulasi ini punya catatan yaitu bila situasi politiknya tidak normal. Jika normal, Prabowo dua periode. Periode kedua akan makin kokoh, selain pengalaman dan kematangan, semua kekuatan akan merapatkan dukungan.
Apakah Prabowo akan mampu bangkit di tengah tingkat kepuasan dan ekspektasi publik kepadanya yang terus merosot? Atau akan terus melemah di tengah arus kekuatan luar istana yang semakin mengintensifkan konsolidasinya?









