Keanehan demi keanehan satu persatu terlihat darinya membuatku penasaran, kenapa dia menjadi berubah tidak seperti yang aku kenal. Aku menaruh curiga ada sesuatu yang terjadi padanya.
Suatu hari saat aku main ke rumahnya, dia menaruh handphonenya di meja sedangkan dia pergi ke toilet. Karena penasaranku akan perubahan sikapnya, aku pun memberanikan diri membuka aplikasi mengirim pesan di handphonenya. Sebenarnya selama ini aku tidak berani membuka handphonenya, karena aku sadar aku belum menjadi yang berhak untuknya. Aku membukanya, ada kontak bernama Michelle di aplikasinya. Aku segera membuka isi pesannya. Aku membaca perlahan dan hati hati. Mataku membelalak saat membacanya, mereka mengirim pesan dengan menggunakan sapaan sayang pada masing masing. Dadaku sesak, seperti ada yang membara didalamnya. Jadi, ini yang membuat sikapnya berubah?. Aku akan segera mengonfirmasikannya dan akan meminta penjelasan darinya.
“Siapa Michelle?” Tanyaku, saat kami berada di resto diatas rooftop setelah dari rumahnya. Dia terlihat amat terkejut.
“Da..darimana kamu tau?” Tanyanya dengan tergagap seperti maling yang ketahuan sedang maling.
“Ngga penting aku tahu darimana. Kamu tinggal jawab aja” ucapku menatapnya tajam.
“Dia temen kantorku” ucapnya.
“Temen kantor tapi pake panggilan sayang?, apa itu pantas?” Tanyaku. Dia menatapku.
“Di satu sisi aku tunangan kamu. Kamu dengan entengnya deket sama temen kantor kamu, kamu anggap aku ini apa?” Ucapku sedikit emosional. Nafasku naik turun, dadaku sesak menahan kepedihan yang ku rasakan.
“Dia hanya temen kantorku” ucapnya.
“Aku udah tau semuanya, maaf aku lancang buka handphone kamu. Aku baca semuanya.” Ucapku dengan mata berkaca-kaca.
“Maaf..” ucapnya singkat sambil menunduk sepertinya dia mengakui ada sesuatu antara dia dengan teman kantornya itu. Aku geram.









