Sejujurnya, aku sangat berat menghadapi kenyataan ini. Aku dan tunanganku kandas ditengah jalan. Sangat menyakitkan bagiku. Aku bergegas memeluknya. Dia agak terkejut, namun akhirnya menyambut pelukanku. Aku menangis dipelukannya.
“Semoga kamu dapet yang lebih baik dari aku, yang bisa lebih membahagiakanmu. Maaf aku udah bikin semuanya hancur, aku cuma pengen kamu bahagia..” ucapnya. Aku tak terlalu memperhatikan ucapannya. Dia mengelus rambutku. Tangisku semakin keras.
Sebulan setelah kejadian itu, aku mendapat kabar kalau dia sakit dan sedang dirawat di rumah sakit. Aku segera menjenguknya. Disana ada ibunya dan kakaknya yang menjaga disamping ranjangnya. Saat aku membuka pintu, aku melihat tubuhnya terbaring di ranjang. Aku segera menghambur ke samping ranjangnya. Aku menangis sambil menggenggam erat tangannya yang kini sangat kurus bagai tulang yang berbalut kulit saja. Ibunya menenangkanku, kakaknya menghela nafas panjang karena sesak melihatku menangisi adiknya.
Setelah tenang aku diajak keluar ruangan sebentar oleh ibunya. Kami duduk di bangku taman.
Tangisku yang tadinya reda segera kembali mengeras saat ibunya memberitahuku perihal penyakit yang diderita olehnya.
“Reza punya penyakit langka di jantungnya sejak kecil. Penyakit jantung bawaan. Dia tumbuh dewasa adalah sebuah anugerah bagi ibu. Bisa melihatnya tumbuh menjadi lelaki gagah dan bisa diandalkan adalah sebuah keajaiban. Dokter pun yang menangani Reza dari kecil, sampai terheran dan merasa takjub Reza bisa bertahan sampai detik ini. Tapi, tiga bulan terakhir kondisi jantungnya kembali melemah dan dia bisa kapan saja mengalami henti detak jantung. Dia bercerita mengenai hubungan kalian, bahwa dia telah melamarmu meskipun belum mengenalkan ibu dengan keluargamu. Tetapi sebulan setelah dia melamarmu, penyakitnya itu kembali menyerang. Dia menyusun rencana bila hal buruk terjadi padanya sewaktu-waktu. Dia membiarkan kamu berfikir bahwa dia berselingkuh dengan teman kantornya, dia merancang semuanya dengan rapi seperti sangat nyata hingga kamu percaya dan meninggalkannya. Percayalah, itu semua rancangan Reza agar kamu menjauh dan melupakan Reza lebih cepat. Reza tidak mau kamu terluka bila suatu saat kejadian tak terduga terjadi padanya. Maaf ibu baru bisa menceritakannya sekarang nak..” Ibunya bercerita panjang.









